Hari Ini Kita Setuju Untuk Bersepakat


Pembaca, ini adalah pertama kalinya saya menulis lagi di media setelah hampir 3 tahun berhenti dan tidak menghasilkan tulisan apapun. Selama belakangan 2 tahun ini saya pulang kampung dan mulai menetap di kota saya menghabiskan masa kecil dulu, ya Purwokerto nama kotanya. Saya mulai membiasakan diri dengan kehidupan dan rutinitas saya dikota ini terutama dalam berkendara ketika pergi untuk mencari uang. Jujur saja, saya mengalami ketidaknyaman belakangan ini ketika berkendara di Purwokerto karena jalan yang sudah mulai sangat padat, karena tukang parkir yang memiliki kuasa melebih petugas Polisi Patroli Jalan Raya dan kenyataan hilangnya ruang publik, berupa ruang jalan kaki, yang secara semena-mena diambil paksa oleh pedagang kaki lima.

Ketika berbicara masalah dijalan raya dan ruang publik disekitarnya saya yakin menguraikannya akan sama ruwetnya dengan kenyataan lalu lalang kendaraan dijalan raya itu sendiri. Keadaan yang menuai keprihatinan dari saya adalah keadaan di jalan daerah Glempang, dimana disana ketiga masalah yang saya sebut diatas benar-benar tertuang dalam keadaan yang nyata. Tukang parkir disana sangat semena-mena dalam menghentikan lalu lintas secara tiba-tiba dijalan utama, ruang publik pejalan kaki mereka gunakan untuk lahan mencari uang. Secara umum, hal pertama yang terbesit dipikiran kita pasti tertuju pada kenyataan pemerintah daerah gagal untuk menciptakan lapangan usaha formal yang berujung pada hadirnya sektor non formal berupa petugas parkit liar tersebut. Tetapi bukankah sudah ada peraturan daerah mengenai pajak, atau retribusi parkir?

Yang kedua mengenai ruang publik pejalan kaki yang sekali lagi diambil paksa, kali ini oleh pedagang kaki lima. Hal tersebut sedikit banyak mengurangi minat saya untuk berjalan kaki dikota ini. Dahulu ketika awal tahun 2000 an berjalan kaki masih menjadi alternatif yang saya gunakan untuk sarana transportasi. Alat yang saya butuhkan hanya sandal. Selain untuk cuci mata disore hari jalan kaki ini menghemat uang jajan saya yang ketika itu masih duduk dibangku SMA. Ketika pertama kali pulang dan menetap Purwokerto tahun 2011 an saya mencoba dan berusaha mengulangi masa-masa kejayaan pejalan kaki di Purwokerto, namun yang saya dapati hanya kenyataan pahit karena berkali-kali ketika berjalan kaki saya harus menyingkir dengan alasan ruang saya digunakan oleh pedagang kaki lima, dan ketika saya terpaksa menyingkir dari ruang pejalan kaki dengan turun ke bahu jalan klakson-klakson liar sudah siap ditujukan pengendara motor buat saya. Jelas ada yang salah disini. Melarang para pedagang kaki lima berjualan jelas akan menghabisi penghidupan meraka, namun membiarkan mereka berjualan pasti akan menghabisi paling tidak minat dan kenyamanan pejalan kaki untuk tetap berjalan kaki. Sekali lagi bukankah pemerintah daerah telah menawarkan relokasi untuk para pedagan kaki lima?

Yang ketiga adalah masalah yang paling kronis yang kita hadapi saat ini, ya kepadatan pengendara sepeda motor. Menguraikannya saya yakin membutuhkan waktu dan tulisan panjang yang jarang ada ujung atau solusinya. Pendapat naif berupa pembatasan pengunaan sepeda motor juga harus melibatkan kenyataan bahwa penjualan sepeda motor sudah menjadi pencaharian sebagian teman yang terlibat dalam web kreatif ini, selain itu kita juga harus memahami kenyataan bahwa transportasi umum di Purwokerto tidak lagi menjadi primadona, yang ada malah kendaraan umum yang banyak menyebabkan terjadinya kecelakaan akibat mereka sering berhenti mendadak demi seorang-dua orang penumpang, kita musti menyadari dua sisi disini, mereka tercekik dengan setoran tapi mereka bisa saja mencekik pengendara yang tepat dibelakang mereka. Hal terakhir adalah ketika kita mencoba menerapkan adanya pembatasan penggunaan sepeda motor ini, kita tidak boleh menerapkan standar ganda, maksudnya sepeda motor dijalan raya tidak semuanya berkonotasi negatif karena masih banyak pengguna sepeda motor yang menggunakan alat tersebut sebagai sumber pencaharian. Dari tiga hal tersebut saja saya pikir pembaca sudah bisa memahami argumentasi saya mengenai susahnya menemukan konsensus dalam mengontrol kendaraan bermotor yang ada di jalan raya Purwokerto ini.

Pembaca, mungkin agak janggal menemui editorial board dengan tema carut marut jalan raya pada web yang membahas proses kreatif terutama musik non mainstream, namun kita mau tidak mau harus berani membicarakan ini pada ruang publik agar kita mampu menciptakan konsensus yang kita sepakati bersama, atau paling tidak bagi siapa saja yang mengaku bagian dari web kreatif ini, atau juga buat siapa saja yang membaca tulisan ini memiliki satu pandangan yang sama. Tapi begini, jangan dulu kita bermimpi kesepakatan kita ini menjadi besar dan mempengaruhi orang-orang diluar kita, paling tidak kita saja dulu lah pelan-pelan mulai bersepakat. Mengatasi masalah dijalan raya pasti panjang sekali kronologinya. Ada baiknya kita menyingkirkan ilusi menyampaikan pesan ini pada pemerintah daerah karena kita pasti bakal menghadapi tembok tinggi yang musti kita panjat bernama birokrasi. Lebih baik kita mengkonversi diri kita sebagai mahluk yang paham fungsi-fungsi ruang dijalanan dengan kemudian mengkampanyekannya pada orang disekitar kita dengan cara menjadikan kita sebagai alat percontohan itu sendiri. Hal inilah yang menurut saya adalah sesuatu yang sangat berat, karena masyarakat kita sudah menjadi masyarakat bodoh yang tidak tahu dan tidak mau tahu fungsi-fungsi ruang dijalanan.

Pembaca, mungkin akan sangat melelahkan dan menarik urat leher ketika tulisan ini kemudian dilanjutkan pada tuntutan yang tak berujung yang didasarkan pada contoh-contoh kebodohan parsial dan kasuistis masyarakat kita dalam ruang dijalanan, jadi baiknya kita ambil kesepakatan bersama seperti ini saja, bagi siapapun yang membaca atau terlibat dalam web kreatif ini berjanji tidak akan mengendarai motor dengan pose yang tidak semestinya seperti tangan kiri memegang smartphone, tidak menggunakan atribut yang tidak semestinya pada kendaraan yang kita kendarai seperti kenalpot rasa pesawat Concorde, berkendara dengan kecepatan masuk akal seperti tidak mencoba menandingi kecepatan Buraq dan yang terakhir tidak menjadi buta huruf dengan ikut-ikutan memarkir kendaraan dilajur yang sudah dengan jelas tertulis itu adalah LAJUR SEPEDA. Adakalanya kita harus menjadi pintar dengan cara yang pintar juga, tetapi kita juga harus memahami kapasitas kita yang kecil. Dalam harapan saya, pembaca dapat berlaku sempurna dan paham fungsi ruang dijalanan sesuai dengan poin-poin diatas, itu pasti. Kita tidak mampu terus-terusan berharap tentang adanya sebuah kebijakan publik formal yang mampu secara frontal mengubah pola pikir masyarakat kita yang sudah cenderung bodoh dijalanan. Jadi paling tidak kita semua sudah memiliki sebuah konsensus bukan??

Pembaca, ini juga adalah awal dari kami yang berada dibelakang layar komunal kecil bernama Heartcorner akhirnya bersepakat bersama untuk menyuarakan sesuatu yang ada didalam pikiran kreatif kami melalui web ini. Apabila semua ingin terlibat, datanglah jangan sungkan. Kita semua disini berproses untuk terus menjadi muda dan tidak dikalahkan oleh keadaan yang ada disekitar kita. Kedepan kami berjanji memberikan materi yang lebih baik dari awal mula ini. Sekali lagi, apabila semua ingin terlibat, datanglah jangan sungkan. Terimalah buah kesepakatan pemikiran kecil dan proses belajar dari kami. Selamat membaca. (WR)

Previous Self Titled - The Frankenstone
Next Ultimatum - Inlander