Artist : DOYZ | Album : Perspektif | Genre : Hip Hop  | Label : Grimloc | Tahun : 2014
 

Well ini D, dibawa I, S, T, O, R, S kembali ke I, Statis“. 12 tahun lalu, cuplikan reff tersebut selalu terdengar di radio setiap penjuru kota di Indonesia. Selain potongan lirik tersebut, kita juga pasti tidak asing dengan rap crew yang tergabung dalam BLAKUMUH di album kompilasi legendaris  Pesta Rap 1 dan 2 yang muncul sekitar tahun 90an dengan single “S.O.S” dan “Kaum Kumuh”. BLAKUMUH kemudian sempat meleburkan diri dengan Sweet Martabak dalam P-Squad dan sempat merilis satu album medio 2001. Dari semua cerita masalah sejarah yang saya jadikan pembuka dalam tulisan ini, saya akan membicarakan seorang legenda bernama Doyz Da Noyz yang kali ini merilis ulang album solonya, ‘Perspektif, tepat 12 tahun semenjak kemunculan album solo tersebut yang dirilis pada tahun 2002. Perilisan ulang album “Perspektif” berawal dari obrolan Doyz dengan beberapa kawannya. Kemudian muncullah ide untuk merilis ulang album yang sudah tertidur cukup lama melalui Grimloc Record dan Baturaja Record pada tahun 2014. Guna melengkapi pembacaan pembaca mengenai album ini, pembaca dapat melengkapi tulisan saya ini melalui website http://hiphopheroes.net/doyz-perspektif yang memuat proses detail serta proses kreatif dibelakang perilisan ulang “Perspektif”.

Bagi saya, mendengarkan album re-rilis ini seperti membuka kembali lembar sejarah perkembangan music hip-hop di tanah air. Paling tidak album ini membuat saya kembali membuka folder Pesta Rap 1, 2, 3 dalam perangkat digital saya. Pesta Rap bagaimanapun juga tidak dapat dipisahkan dari dinamika perkembangan musik hip-hop di tanah air. Apabila kita ingat dalam album kompilasi tersebut terdapat beberapa rap crew yang cukup esensial keberadaannya  seperti Sound da Clan, Paper Clip, Sweet Martabak, Black Skin, Boyz Got No Brain dan beberapa rap crew lainnya. Album inilah yang secara ikonik, bersama Iwa. K, meskipun saya tidak sepenuhnya menyetujui pengkultusan Iwa, diklaim oleh banyak pengamat musik sebagai pendobrak perluasan pasar musik hip-hop terutama ketika dikaitkan antara kemunculan album Pesta Rap dengan kesempatan para rap crew tampil di media-media mainstream sepeti televisi, majalah teen, maupun dalam surat kabar beroplah nasional.

Oke, mari kita bahas album Perspektif milik Doyz. Saya akan mengunakan ucapan  Ucok A.K.A Morgue Vanguard dalam liner notes di cover album ini “Perspektif bisa dibilang merupakan album hiphop lokal pertama yang menaruh fokus penuh pada sisi ‘lyricism‘ dari musik rap” dalam menjembatani pemikiran pembaca pada hipotesis saya mengenai betapa sederhanya bahasa yang digunakan Doyz dalam menyampaikan pesan melalui komposisi yang ia ramu dalam “Perspektif”. Seperti biasa “ILLtro” muncul sebagai track pembuka album dengan ucapan salam “assalammualaikum wr.wb”. Disini Doyz memperkenalkan dirinya melalui rangkaian spoken word. Track selanjutnya adalah “Distorsi Statis’ yang sempat dibuat video klipnya. “Distorsi Statis” bercerita mengenai rutinitas kehidupan. Sekilas lirik dalam track ini nampak seperti curahan hati seorang Doyz tentang kondisi di sekitarnya, sesekali dia menyentil kelakuan para elite politik paska reformasi, sesuatu yang masih relevan dengan sikap para elit sekarang ini, tidak berubah dan statis membohongi kita. Track selanjutnya adalah “Apalah” yang dikemas seperti sebuah ungkapan tentang kondisi sosial yang terjadi. Suara siulan dalam track “Kau dan Aku” hasil feat dengan Taste segera menyambung perjalanan saya dalam mengikuti alur yang dibuat oleh “Perspektif”. Track tersebut mencoba mengajak kita untuk tidak mengeluh dan menikmati dunia dengan segala keindahannya dibalut semangat persahabatan. Track kelima, adalah sebuah diss track yang terdengar seperti puisi Arab satir, yang disebut “Hija”, yang marak terdengar selama Abad Pertengahan. “Hija” ini saat itu ide dasarnya adalah untuk menghina seseorang hyang adir di ruang yang sama dengan seorang penyair yang tengah membacakan puisinya. Doyzpun dengan cerdas membungkus ejekan a la “Hija” dalam  track ini dengan ciamik dan santun tanpa kehilangan esensinya untuk mengejek. Mendengar track selanjutnya berjudul “7:30” hasil kolaborasi dengan Xaqhala seperti mendengar dentuman beat milik The Roots. Dalam album “Perspektif’ ini Doyz memang menggandeng banyak musisi tamu, sebagai contoh, dalam “Hip Hop : Paralisis!” Doyz menggandeng VK, Seen, Ethnic dan Ezki. Track ketujuh sangat menarik untuk disimak, pendengar akan mendapati sebuah hook “Gue Bilang Hip, Elo Bilang Hop, Hip Hop Hip Hip” begitu otentiknya Doyz mengubah kata-kata tersebut menjadi bahasa Indonesia. Mungkin Doyz mencoba bercerita tentang kondisi hip hop saat itu yang mulai meredup oleh berbagai faktor salah satunya kooptasi major industry. Track kedepalan berjudul “iLLFeel”, Doyz mengajak Bagindo untuk berbagai microphone. Track “Molen’s Poem” menjadi satu-satunya puisi berformat spoken word dalam album ini. Bagi saya ketika mendegarkan track ini serasa seperti mendengar puisi “Peringatan” milik Widji Tukul yang ditujukan kepada penguasa.”Perspektif” akhirnya ditutup dengan “Bumi Hari Ini #2” hasil featuring Doyz dengan 3rd Emcee. Sesuai judulnya, Doyz mencoba mendedikasikan lagu, yang ia ciptakan pada medio 2002, terhadap kondisi bumi di tahun 2014 yang, kerennya, masih begitu relevan ketika waktu telah berjalan 12 tahun. Apa yang Doyz bicarakan pada tahun 2002 mengenai bumi dan hingga kini masih terasa relevan? Jawabannya adalah kritik terhadap industrialisasi, eksploitasi dan modernisasi yang mengancam keberlangsungan alam.

Sebagai kesimpulan, saya berkesimpulan bahwa apa yang Doyz sampaikan dalam “Perspektif” merupakan sesuatu yang sangat sederhana. Sebagai pembanding sekaligus penguat hipotesis, dengan penuh hormat, saya mengakui bahwa album “Perspektif” adalah sumber perspektif lain ditengah keriuhan berbalas antara Homicide dan Thufail al-Ghifary yang selalu menggunakan metafora yang hanya dapat dikonsumsi beberapa kalangan saja. Selamat untuk Doyz Da Noyz, selamat untuk komitmennya, selamat untuk keyakinannya untuk terus memperjuangkan hip-hop, selamat untuk kesuksesannya menyampaikan bahasan dalam liriknya melalui bahasa-bahasa yang sederhana.