Halo, Teman-teman pembaca Heartcorner.net. Nama aku Ratna, aku mahasiswa Sosiologi Unsoed Angkatan 2013. Iya, masih baru banget, sih. Nama aku Ratna tapi gak pake Sarumpaet, ya. Aku emang mau nulis sesuatu yang kritis tentang perempuan, tapi bukan berarti dan gak harus aku Ratna Sarumpaet, kan? Pertanyaanku garing, ya?! Maaf, deh.

Oh, iya, waktu pertama kali baca Editorial Board Heartcorner.net bulan ini, aku langsung tertarik banget buat nulis opini. Selain karena aku emang suka banget menulis, aku emang jarang banget nulis-nulis gak jelas di sosial media. Aku rasa orang yang cuma bisa nulis di sosial media itu orang yang gak dewasa. Hari gini urusan orang per orang tapi seluruh dunia harus tau via sosial media?! Hellaaaaw!

Udah gitu, aku juga suka banget baca tulisan-tulisan yang terstruktur. Aku gak suka banget sama orang yang cuma bisa ngequote dan itu di sosial media pula. Aku merasa orang yang seperti itu menafikan orang-orang yang bener-bener membaca sebuah teori, kaya aku gitu contohnya. Kan jatuhnya kasihan, udah baca panjang-panjang eh kesannya kalah sama orang yang baca informasi generik lewat quotes. Kadang aku kepengin, sih, nulis quotes di sosial media. Tapi masa iya aku mau nulis quotes tentang Kapitalnya Marx di twitter? Kan lebih dari 140 karakter? Karena sulit, akhirnya aku memilih buat gak menulis dan jadi keliatan gak pinter. Kadang di situ aku ngerasa sedih.

Gak papa sedikit ngelantur, ya, teman-teman. Nulis opini ini, bukan nulis tugas terstruktur. Sebelum aku berbicara pada inti judul aku, aku mau cerita dulu masalah kenapa aku pilih judul di atas. Judul ini aku pilih dengan alasan tren instagram berstruktur id: blablabla (nama kota) cantik. Sebenarnya, tren ini berasal dari kota lain. Tapi karena ini era viral, semuanya pasti akan segera tertular. Karena di Purwokerto ini juga aku temukan akun yang demikian, sepertinya menarik juga aku tulis. Sebelum menuju ke pembahasan masalah IG (aku singkat Instagramnya, ya) aku juga mau melindungi diri aku dulu dari adanya polemik yang tercipta selepas tulisan ini nanti diunggah. Sebagai perempuan dan aku cantik, aku bukan menulis tulisan ini sebagai bentuk protes karena aku belum pernah dipromote sama IG cantik-cantikan. Bukan dan sama sekali aku gak tertarik. Walaupun terkesan sok nyleneh dan sok pemikir, aku emang kepengen terlihat cantik karena aku adalah pemikir sosial yang cas-cis-cus ketika aku berbicara tentang apa yang aku ketahui, aku juga kepengen terlihat menarik karena melihat sebuah gejala melalui cara pandang yang lain, baik secara kultural, sosiologis, dan terstruktur. Selain, yang terakhir, karena aku emang cantik secara fisik. Menurut aku mengedepankan kecantikan fisik dan promote-promotan di IG itu gak penting banget, lah. Bikin malu Emma Goldman sama Simone De Beauvoir aja!

Oke, karena pemilihan judul udah aku jelasin, sekarang saatnya aku membahas keterkaitan akun cantik-cantikan-cantikers dengan tiga hal yang aku jadiin judul tulisan ini: Komodifikasi, Stratifikasi, dan Eksploitasi.

Pertama kaitan IG cantik-cantikan dengan Komodifikasi. Sejak kita menghidupi sistem kapitalisme, sadar atau tidak, apapun itu yang ada dalam hidup kita udah jadi komoditas. Kalian harus tahu! Yang pertama kalian harus lakuin buat tahu adalah buka dulu kamus atau  internet. Cari apa itu arti komodifikasi. Gak, gak ada kaitannya sama komodo atau kodomo, plis, be smart sedikit!

Saat ini, setelah era modernisme lewat yang ditandai dengan kematian makna teks yang dijelaskan oleh Derrida, kita hidup dalam era Post-Modernisme. Masa ini ditandai dengan sebuah keadaan yang disebutkan oleh Baudrillard sebagai Simulacrum. Gampangnya, buat kalian yang suka ngasih caption foto kalian di IG pake Bahasa Inggris, Simulacrum ini adalah likeness atau imitation of image. IG cantik-cantikers ini aku sebut sebagai Simulacrum buat kalian yang kepengin banget dipromote. Akun ini secara sukses menjadikan promote sebagai simulasi tujuan hidup yang ingin dicapai dalam dunia maya yang terbawa sampai dunia nyata. Nih, ya, aku mau tanya coba: apa tujuan kalian pengin banget dipromote pake akun cantik-cantikan ini, sih? Kalau kalian jawab mau cari jodoh lewat cara ini ya itu bego namanya. Lagian mana ada dan mana logis, sih, ada cowok follow IG kalian karena dipromote akun cantik-cantikan, sepak-sepik mahasakti, dan tau-tau ke rumah bawa seperangkat alat Sholat atau tiba-tiba ngajak ke Gereja buat Misa Nikah. Ya gak ada, semua itu Simulacrum. Yang kalian temuin lewat promote-promotan itu cowok-cowok pervert yang cuma mau berbuat mesum sama kalian. Mulai njadiin foto kalian sebagai bahan coli sampai ngajak kalian buat intercourse. Apa gak serem, tuh? Serem buat yang baik-baik, kalau buat yang kegatelan ya malah seneng. Kalau dibilang enak ya enak dua-duanya, tapikan kalian harus ingat, bahwa yang menanggung perubahan bentuk genital pasca intercourse dalam seks adalah kita, perempuan! Punya cowok mah begitu-gitu aja bentuknya. Nah, kita?! Dipikir lagi coba, Girls.

Yang terakhir dari bagian pertama, masalah komodifikasi, nih! Kalo misal pasca dipromote terus followers kalian melonjak, apa eksesnya buat kalian coba? Biar jawaban kalian gak ngaco, aku kasih ilustrasi komparatif sama kenyataan ini: Yesus of Nazareth itu gak punya IG dan dia cuma punya 12 followers, tapi dia dinubuatkan jadi Tuhan. Lah, kalian followers sampe ribuan, siapa yang nubuatin kalian jadi Tuhan? Jangankan Tuhan, jadi Ratu Kecantikan tingkat 17 Agustusan aja boro-boro! Buat apa followers banyak-banyak. Jalani aja kehidupan nyata kalian!

Kedua adalah bagaimana akun IG cantik-cantikan-cantikers memperkuat stratifikasi konservatif yang menguntungkan penguasa sistem yang dibentuk atas dasar Patriaki. Udah kaya judul Thesis belum, tuh?! Sebagai mahasiswa Sosiologi, haram hukumnya aku gak baca teorinya Sorokin mulai dari Perubahan sosial, Stratifikasi sosial, dan banyak teori sosial lainnya. Stratifikasi ini adalah pembedaan masyarakat dalam lapisan-lapisan yang berhierarki alias bersusun karena di sini tipe pembagiannya ada pembagian secara vertikal. Mudeng gak sampe sini? Plis, ya, Plis banget.

Kenapa masalah stratifikasi aku kaitkan dengan sistem Patriaki dan masukin dalam bahasan ini? Jawabannya adalah karena kita sebagai perempuan itu berada di lapisan bawah dalam stratifikasi sosial yang terbentuk dalam sistem IG cantik-cantikan. Kalau kalian gak percaya, coba kalian pahami ilustrasi ini: Akun IG cantik-cantikan itu adminnya cowok, mereka bebas mendefinisikan kita sebagai sesuatu yang cantik dengan balutan tipu-tipu “Mahluk tuhan yang patut dikagumi dan diapresisi. PRET! Akun IG yang IGO cewek toketnya tumpah-tumpah, ya cowok juga adminnya. Akun IG cewek bispak, ya cowok juga. Akun IG ganteng-gantengers, adminnya juga cowok. Sampai-sampai, akun yang jualan cowok gay, adminnya cowok juga. Cowok bebas melabeli lawan jenis dan sejenisnya. Coba kalau kita yang begitu, yang jadi admin dan bikin IG heboh gitu. Bisa dapet label calon penghuni neraka! Paham gak, sih, kalau bagaimanapun kita selalu menjadi objek.

Parahnya, ketika kalian dijadikan objek oleh cowok dengan komen-komen gak jelas kalian bisa marah-marah. Tetapi ketika kalian bertemu sekutu kalian yang perempuan, yang perlu disadarkan, kalian justru membuang waktu dalam ilustrasi demikian: ada komen pada foto IG kita pasca dipromote akun IG cantik-cantikan. Kamu, dengan kampretnya pasang foto bangun bobok dan kamu kasih caption “sekali-sekali bangun bobok selfie, ah”. Terus ada komen masuk: “Cantik!” Pasti kalian bakal jawab: “cantikan kamu, beb”. Terus berbalas lagi: “cantikan aku dari mana, beb? Jelas-jelas kamu cantik gitu” begitu terus, sampe tahu-tahu nanti Ya’juj dan Ma’juj udah dateng dan mencolek kamu terus memberitakan kalau Dajjal sudah datang di muka bumi. Gak sampai di situ, mereka juga bakal nanya: Kamu mau ketemu Dajjal, gak?

Coba, kalian pikir, deh! Kalau dari komen berbalas-balas cantik-cantikan, kalian bisa potong dengan jawaban singkat:”Iya, memang aku cantik, beb. Tapi apalah arti cantik kalau kita gak bisa mewujudkan tatanan dunia baru yang berdasarkan pada kesetaraan gender, apalah artinya, beb?!” Kan jelas ada efeknya. Dari pembicaraan di IG, kalian berdiskusi menghidupkan kembali Gerwani, menghimpun pergerakan perempuan via IG, dan menggugat gurita patriaki yang melumpuhkan gerak kalian menjadi masyarakat kelas dua. Konkret! Makanya jangan modal cantik doang, modal kuliah doang, modal baca buku kelas kampring doang, modal quotasi doang, udah ngerasa jadi smartgirl. Hello, plis deh. Tolong, sekali lagi, tolong!

Udah nih yang terakhir. Jujur aja, sebagai perempuan aku sebenernya gregetan ketika nulis opini ini, dengan kenyataan gimana banyaknya polah perempuan di luar sana yang justru kepengin banget dipromote sama IG cantik-cantikan ini. Sebagai cewek kepengin banget ngeluh imut pake kata GMZ, KZL karena itu emang aksiologiku sebagai perempuan. Tapi gimana lagi, di tulisan ini aku udah mencitrakan diri sebagai perempuan yang kuat, sekuat pohon pinang yang dipanjat berpuluh lelaki berpeluh saat perayaan 17 Agustus. Aku musti konsisten!

Yang terakhir mau aku bahas adalah masalah Eksploitasi. Urutin tuh coba, melalui IG cantik-cantikan, kalian sebagai perempuan udah dijadiin komodifikasi, terus kalian ditaruh dalam stratifikasi yang bebas dilabelin cantik dan dipajang-pajang sama lawan jenis kalian, dan ini terakhir dieksploitasi. Bayangin! Kurang apes apa, sih, kalian jadi perempuan!

Buat menjelaskan keterkaitan eksploitasi dengan IG cantik-cantikan, aku bakal pakai antitesis tulisannya Foucault di “The History Of Sexuality”. Dalam tulisan itu, Beliaunya berpendapat:

We must abandon the hypothesis that modern industrial societies ushered in an age of increased sexual repression. We have not only witnessed a visible explosion of unorthodox sexualities; but –and this is the important point – a deployment quite different from the law, even if it is locally dependent on procedures of prohibition, has ensured, through a network of interconnecting mechanisms, the proliferation of specific pleasures and the multiplication of disparate sexualities.”

Sejak era industrialisasi dan kapitalisme, sexualitas itu sudah mengalami kekosongan dalam bentuk-bentuk konservatifnya. Maksud, gak? Gini, semua tindakan dalam era kapitalisme itu dianggap sebagai seksualitas yang telah berpindah tempatnya, menyebar dari sexualitas yang tadinya hanya terpusat pada tubuh, lekuk, desahan, dan eksploitasi sensualitas perempuan yang merupakan makna sempit dari seksualitas.

Apabila dikaitkan dengan IG cantik-cantikan, aku justru memberikan antitesis untuk postulat beliau, sebab postulat tersebut bekerja dalam masyarakat Industri atau istilah gampangnya masyarakat maju. Nah, Kita, hidup dalam masyarakat ongol-ongol, masyarakat gaduh!

Postulat Foucault aku bantah sekaligus memperkuat eksploitasi dalam IG cantik-cantikan karena di sini seksualitas masih ada dalam bentuk konservatifnya yang aku sebutin di atas tadi. Pada bentuk yang terlihat, foto selfie kalian yang dipromote akun IG cantik-cantikan. Kalo gak pada percaya masih tinggalnya seksualitas dalam bentuk konservatifnya, tubuh perempuan, selain di film porno gay, ya, ada gak film porno yang mengeksploitasi si lelaki saat akan mencapai orgasme?! Ada juga malah muka cowoknya diblur. Kok aku mendadak jadi expert dalam hal film porno gini, sih?!

Sama seperti akun IG cantik-cantikan, intinya mereka hanya mengeksploitasi perempuan saja, menjadikannya objek, dan membuat kita sebagai sesuatu yang pantas dilabeli, dan parahnya lagi kita diam-diam saja pasca dilabeli. Kita gak ngasih perlawanan cuma gara-gara dikasih tambahan followers lewat mekanisme promote.

Teman-teman, rasanya kritik saja tanpa saran bukanlah sesuatu yang membangun. Aku mencoba mengambil kesimpulan bahwa ini semua berawal dari kesukaan perempuan-perempuan buat selfie dan akhirnya mendorong kemunculan akun-akun IG cantik-cantikan. Jadi kaya lingkaran gak keputus, tuh. Aku pikir selfie itu ngapain banget, deh! Aku pikir ontologi selfie itu karena terlalu banyaknya perempuan-perempuan selow. Kalian cuma baca quotasi atau twit selebtwit yang dibukuin dan kemudian dengan mudahnya kalian jadi terinspirasi. Coba, deh, kalian baca bukunya Marx yang “Das Kapital” yang bahasa Jerman, terus kalian terjemahin ke bahasa Inggris, terus baru kalian terjemahin ke bahasa Indonesia. Kalau masih kurang panjang dan biar kalian gak selow-selow amat-berujung-selfie, coba deh kalian baca sejarah kedatangan alien ke bumi lewat “The Epic Of Gilgamesh”. Kalau dua itu dilakuin tapi masih kurang panjang? Kalian terjemahin tuh Codexnya Hamurabi! Pokoknya kalian jangan sampe selow-selow-amat-berujung-selfie. Kontemplasikan terus pemikiran kalian. Baik dalam hal keperempuanan dan hal absurd lainnya yang memakan kapasitas otak kalian!

Yaudah, segitu aja ya, teman-teman. Semoga tulisanku bisa menggugah para perempuan untuk lebih sadar kalau “Beauty fade away, but stupidity is forever” yang artinya “ayo berpikir biar gak dijadiin objek melulu”. Buat Heartcorner juga terima kasih, ya. Sukses terus karena aku yakin kalian adalah kolektif paling keren di kota tempat saya berkuliah sekarang. Salam Setara!

Ratna Dumila, Mahasiswi Fakultas Sosiologi Unsoed angkatan 2013