Artist: Soulroots | Album: DESTINATION | Genre: Hip Hop / Rap | Label: – | Tahun: 2016

Berkah akhir tahun rupanya masih belum berhenti untuk saya. Secara sengaja atau tidak, saya diberi kesempatan untuk mengulas sebuah album berjudul DESTINATION milik Soulroots, sebuah unit rap yang berdomisili di yogyakarta. Saya selalu memiliki ingatan yang menarik tentang kota Yogyakarta. Beberapa unit rap dari sana memiliki kesan yang tidak bisa saya lupakan. Sebut saja NOK 37 dengan formasi Gorilla Hitam, Paws, Rotten maupun Dirty Connection dengan Ibnu yang sempat mengisi acara pada tahun 2010 di purwokerto. Tak lupa Hillarius dari bloccalitto yang meninggalkan sisa rakab-rakab daun surga berjari lima. Waktu itu Bloccalito belum se-hits sekarang, dan memang waktu itu Bloccalitto tidak dalam formasi lengkap. Jadi kesempatan mengisi acara hanya diberikan pada NOK 37 dan Dirty Connection.

Kali ini, saya akan menambah kesan lagi tentang Yogyakarta dan unit rapnya. Rasanya tidak perlu saya menyia-nyiakan kesempatan ketika ada direct message ‘minta email bro, mau saya kirim lagu soulroots’. Langsung saja tanpa basi-basi saya sambut dengan jawaban ‘kalau boleh sini saya review sekalian’. Biasanya saya selalu membeli album rilisan rap indonesia dan sok-sokan melakukan review tanpa peduli apa tanggapan mereka tentang tulisan saya.

Setelah selesai mengunduh file kiriman di email, saya mendapati informasi bahwa penggarapan album ini diproduseri oleh Lacos. Menurut saya Lacos merupakan salah satu produser yang mampu melihat potensi setiap unit rap untuk digarap. Produser bertangan dingin ini menyajikan teknik sample base seperti milik 9th Wonder, Apollo Brown, Hocus Pocus dan J Dilla. Sangat tepat album ini dinikmati saat sore dengan segelas kopi. Pengambilan sample dari lagu jazz dan soul cocok bagi karakter vocal yang dimiliki soulroots. Tebakan saya mendekati benar, soulroots mengeksekusi beat dengan laid back flow sejenis Slick Rick, Yung Lean, Curren$y maupun Guru dari Gang Starr.

Album ini dibuka dengan Intro, sebuah penghantar dari Lacos sebagai bentuk representasi dari beat-beat chill out yang akan berlanjut pada track selanjutnya. Setelah melewati intro, saya memutuskan untuk mengganti speaker aktif dengan headphone. Suara low dari kick dan sub-bass yang di-compond dengan low vocal Soulroots akan mubazir jika dilewatkan. Urutan track kedua berjudul S.O.S sebagai tanda bahaya dari Soulroots untuk menunjukan taringnya dalam panggung rap yang sedang ramai. Peringatan ditulis cukup tegas dalam liriknya berikut “siapa bilang ku tak bisa cetak history//ucap sombong karna aku tak permisi//jalanku makin terang dengan otakku berisi//dalam hiphop dengan mereka aku beradaptasi//tak ada tanda titik koma ku masih lanjut//mainkan rima rimba sampai kulitku keriput//naik turun arus dalam jalanan tetap ku ikut//ku lambaikan tanganku untuk satu kata takut//yo,panggilku iwan tapi tanpa kata fales//merespon kalian bikin aku jadi males//naik satu tingkat bikin kalian makin jelous//begini aku laku lalu raih kunci sukses man. Sepertinya Soulroots cukup serius memikirkan urutan lagu dalam albumnya.

Setelah peringatan serius dalam track kedua, Soulroots sedikit memberikan penjelasan bahwa dirinya tidak akan sendirian dalam perannya di dunia rap. Pada track ketiga Arvisco dan Potas Tribe digandeng untuk mengeksekusi judul Alright. Arvisco tanpa ragu menunjukan eksistensinya, mungkin karena dia sudah terlalu lama sibuk sebagai producer dan director dibalik kamera. Potas Tribe memberikan sentuhan yang sedikit puitis dalam verse kedua yang kemudian disambung oleh Soulroots pada verse ketiga. “Hip-hopku bukan wanita dan uang//ini lebih real dari yang mereka bilang//stop//kau hanyalah seorang pendengar//silahkan angkat kaki bila kau cuma sebentar” begitu cuplikan dalam chorus berjudul Begini. Kecintaannya pada hip hop dituangkan dalam lagu ini, sebagaimana refleksinya tentang dirinya dan hip hop. Di sinilah saya dapat mendengar sentuhan Lacos membalut beat serupa J Dilla. Sebagian part dari lagu ini mengingatkan saya kepada kolaborasi J Dilla dan Proof, hanya saja suara bass terlalu dominan membuat sentuhannya menjadi kurang syahdu jika dipadu dengan lirik yang menggambarkan Soulroot secara personal.

Saya seperti sudah ingin menebak bahwa album ini bercerita tentang cinta, harapan dan cita-citanya membawa hip hop dalam kehidupan pribadinya. Skit dalam barisan kelima digambarkan proses produksi beat dengan chopping sample yang terdengar dari MPC milik producer. Kisah cinta Soulroots mungkin tak semulus flow-nya dalam tiap lagu. Pada verse ketiga lagu berjudul Eskpektasi saya menemukan kepasrahannya mengejar gadis impian kemudian banting setir seperti ini “cukup jenuh ku menunggu//bidadari impianku//daripada ku nunggu lama//mending aku sama kamu aja//cape juga ku jadi jomblo//yang kagak laku-laku//ya sudahlah,ya sudahlah//mending sama kamu aja//kadang selera kita butuh perubahan//tak selamanya yang cantik itu bisa bikin nyaman//cinta jangan dipandang sebelah mata dari yang terlihat//kadang yang tak terlihat justru itu sering terlewat//pesona sebenarnya datang dari hati//gak ada yang salah jika kita punya mimpi//tuk dapatkan yang ori bukan polesan//ini cuma saran,,peace man”. Ah.. bisa saja kau melakukan apology ketika sang gadis hanya memberimu senyuman tapi perasaan tak disambut dengan pelukan. Serius man, lagu ini buat saya cengar-cengir sinis sebenarnya. Bisa saja itu lagu untuk tema kegagalan cinta para pencari cinta level duafa macam kita. Modal usaha patty cash tak seberapa niat sekuat baja tapi kandas juga.

Perjalanan terdengar lebih bagus dari lagu sebelumnya. Masih seputar perjalanan dan pengalaman Soulroots selama bersetubuh dengan hip hop. Jika saya diizinkan berkomentar, kalau mau terkenal coba belajar sama seorang yang sudah menjadi rap star. Kalau tidak cobalah minta Lacos yang sedang asik bermain trap membuatkan instrument sebagai canvas lirikmu. Tetapi saya yakin Soulroots lebih cocok dengan beat semacam ini.  Johnson mengemukakan Stereotype adalah suatu keyakinan seseorang terhadap orang lain (karena dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman). Keyakinan itu membuat kita memperkirakan perbedaan antarkelompok yang mungkin kelewat tinggi ataupun terlalu rendah sebagai ciri khas seseorang maupun kelompoknya. Secara sederhana Soulroots membahasakan hal tersebut dalam lagu ini. Kita tahu betul sulit memang menepis anggapan tentang cantik, kaya, tampan yang sudah terkomodifikasi melalui pencitraan iklan. Lebih baik memang apa adanya menjalanin percintaan dan kehidupan.

Nomor sembilan disi dengan lagu berjudul Attention, entah perhatian ini akan ditujukan kepada siapa. Saya tidak akan berasumsi dengan tema lagu ini, baiknya Soulroots sendiri yang akan menjawab. Mungkin ini pengalaman pribadi miliknya yang dituang dalam lirik berikut ‘mereka bilang ku ambisi untuk jadi selebrity//menjilat kanan kiri untuk dapatkan posisi//mereka katakan kalo aku tak pernah tinggi//cemburu terlalu tinggi awas bisa harakiri//kau bukan bunglon tapi kau berubah warna//dekati satu massa untuk ciptakan masalah//mendoktrin orang bodoh lalu hilang tanpa arah//ibarat cerita si tuli tuntun yang tlah buta//mencoba sangar tapi kau bukan petarung//karna kau bagai kerbau yang dicocok hidung//engkau takut akan kehilangan pamor//derajat tinggi tapi dengan cara mental kotor//bicara soal rima kau terlalu jauh//bicara soal apapun engkau itu tak mampu//boeh angkat kaki bila masih ragu-ragu//silahkan membenci lalu kumpulkan semua kubu’. Apapun itu, ini pengalaman keras yang menderannya selama bergulat di dunia hip hop. Saya tertarik pada beat yang sekilas dikuping terdengar mirip LL Cool J dengan Doin’ It.

Kita hampir sampai pada penghujung album yang berisi 12 track tanpa proses gocek. Lirik disajikan apa adanya oleh Soulroots berangkat dari yang dialami sendiri. Hilang Moral berada pada urutan kesepuluh berkolaborasi kembali dengan Potas Tribe. Mereka bisa jadi sedang marah terhadap kondisi hip hop yang semakin jauh dari makna dan penghayatan. Rap secara khusus memang berangkat dari pengalaman pribadi tiap pelakunya. Bahasa yang jujur bisa kita dengar hampir semua lagu yang diciptakan para pelakunya. Saya akan mengutip lirik milik Potas Tribe dalam verse kedua yang cukup menarik berikut ini ‘berkarya bukan bicara menang dan kalah//bukan menyerah disaat kau ada masalah//aku bukan rossi yang selalu di depan//rapku tanpa melodi karna dia di jkt 48//tetap lincah dalam kata bagai ballerina//melompat ke udara diatas matras area//rimaku mengalir keluar dari kepala//berkata tak asal tapi ini terpola//sudahlah kawan bukan waktunya tuk berdiam//lupakan semua kesalmu jangan jadi pendendam//karna irama musik dari lacos ini bagai sang maestro//rap ku pakai fell bukan sekedar pamer tattoo//yang baru biarkan pasti ada masa jenuh//semua ini yang berbicara hanyalahwaktuberpikir dan berkata di atas mic//jika kau emce perlu intelejensi improvisasi. Akan lebih menarik kalian menyimak liriknya pada verse ketiga, disitu agaknya terdapat sebuah clue untuk tujuan dan untuk siapa lagi ini.

Sebelum Outro ada sebuah ucapan Thanks dari Soulroots. Saya tidak akan melewatkan dua verse hasil kolaborasinya dengan Tuan Tigabelas. Sangat cocok menempatkan Tuan Tigabelas dalam akhir album ini. Suara khas miliknya terdengar seperti kidung lagu-lagu gospel yang bergaung dalam big room Chatedral. Lagipula Lacos membalut beat kembali seperti J Dilla feat Dwele dalam Dime Piece. Saya akan cantumkan semua lirik kecuali chorus, Soulroot menceritakan “dalam lagu ini perjalanan yang ku tempuh begitu panjang//bahagia dan sedih pergi dan dating//pujian cacian mengubahku bagai Spartan//panggung dan microphone membuatku seakan//selebrity yang hidup dengan ketenaran//mobil mewah yang berbaris jadi pembenaran//seolah semua abadi takkan hilang//seolah cahayaku terus gilang gemilang//namun semua tak nyata tanpa kalian teman//dukungan membuatku terus maju kedepan//banyak yang mencibirku dengan kalimat kotor//seakan mereka lebih tinggi dan lebih tersohor//ku biarkan mereka bungkam dengan lelah//terus langkahkan kaki jangan sampai ku lemah//sukses siapku jemput didepan mata//bahagia ku pastikan di atas rata-rata//thanks god kau slalu berikan jalan yang terbaik//resahku lelahku kau buat jadi terbalik//doa dari kedua orangtua takkan terganti//semangat yang mereka beri sungguh berarti//terima kasih untuk para sahabat//teriama kasih ku ucapkan untuk peri kanan dan kiri//dan masih//terima kasih untuk cinta yang masih setia disini. Dipertegas melalui rasa terima kasih dan doa oleh Tuan Tigabelas menlanjutkan terima kasih untuk udara//terima kasih untuk semua berkat yang ada depan mata//terima kasih atas semua karunia//terima kasih untuk nikmatnya sensimilia//terima kasih atas musik yang aku punya//terima kasih hip-hop bikin ku bersuara//terima kasih teman karna kau slalu ada//terima kasih untuk semua yang support sejak pertama//tak lupa terima kasih para pembenci//terima kasih pendahulu kalian inspirasi kami//kau buka mata kami //berikan legacy untuk generasi lewat musik ini//yeaahh//terima kasih pada sang khalik//untuk semua nikmat yang di beri//maafkan kami yang tak punya simpul jari//tapi yang didepan mata lupa di syukuri.

Secara keseluruhan, dapat dikatakan Destination merupakan rangkaian perjalanan dari Soulroots. Sama seperti titel albumnya, semoga apa yang dituju oleh Soulroot telah sampai ketika album ini diluncurkan. Sekalipun masih setengah jalan atau bahkan belum sama sekali suatu saat nanti pasti akan sampai. Kekaguman saya bertambah ketika mendengar cerita bahwa album ini dirilis tanpa label. Memang bukan sebuah halangan untuk proses berkarya jika sudah sampai tahap mencintai. Begitulah saya menggambarkan album ini, Soulroots tuntas untuk berrefleksi dan berproduksi. (HEN)