Artist: Sigmun | Album: Crimson Eyes | Genre: Psychedelic Rock | Label: Orange Cliff Records | Tahun: 2015

I

Stoner/Doom barangkali adalah salah satu jenis genre musik yang sangat taat menjalin simpul dengan horror. Apapun itu, cerita, film, maupun imaji. Kita pasti telah akrab dengan bagaimana Electric Wizard mengagungkan praktik witchcraft hari-hari belakangan ini, kegilaan okult, dan pemujaan setan secara terang-terangan. Kita juga paham bagaimana Matt Pike adalah seorang disciple of Cthulhu paling taat, pemuja mad architect Abdul Alhazred, dan khatam mengkaji Necronomicon. Jangan sampai terlewatkan, bagaimana doom asal Jepang, Church of Misery, menghadirkan pembunuh-pembunuh berantai dalam kitab biadab mereka yang berjudul “Master Of Brutality”.

Sigmun mungkin bisa digolongkan sebagai pengusung Stoner/Doom pada era “Cerebro”. Namun kasusnya menjadi lain lepas mereka merilis full album pertama bertitel “Crimson Eyes” bulan ini. Apa yang saya dapatkan pasca mengamati konten album tersebut adalah sebuah vivid imagery mengenai absurditas, kegilaan, dan pembangkitan entitas transcendental yang mampu menembus batas nyata dan delusif. Lebih jauh “Crimson Eyes” bagi saya adalah  mosaik dari bermacam horror. Apakah Bernard Quatermass berada di belakang penulisan lirik mereka?

Guna menjelaskan penangkapan saya dalam hal tersebut, saya akan menggunakan film sebagai media untuk menyampaikan gambaran horror yang saya dapat pasca mendengarkan keseluruhan “Crimson Eyes”. Entah benar atau tidak, Haikal, personel Sigmun yang bertanggung jawab pada divisi lirik, bukan Quatermass, mungkin sedikit banyak terinspirasi ratusan sleazy horror movie yang menjamur dari rentang tahun 1960-1970an.

“Crimson Eyes” dibuka oleh “In The Horizon” yang mengalun menebarkan kegilaan di selayang horizon kita. Bagi saya, impresi ketika menyimak nomor ini sama dengan ketika menyusuri lorong panjang dalam masterpice karya Dario Argento ,”Suspiria”, sambil diiringi dentuman-dentuman mencekam milik Goblin. “Vultures” dan “Devil In Disguise” adalah rangkaian “Omen” alias penanda buruk mengenai kegilaan yang bakal hadir dalam keseluruhan “Crimson Eyes”. Berturut-turut dua nomor tersebut memberikan saya seberkas gambaran dalam “Black Sunday a.k.a The Mask of Satan” milik sang legenda gialo movie, Mario Bava. Hitam putih, disertai janji untuk mengutuki segala yang ada di sekitarnya, dan memaksa mereka untuk meminta pertolongan.

“Halfglass Full of Poison” merupakan favorit saya. Line persuasif Haikal berbunyi “Let’s Burn, burn, burn” mau tidak mau membuat saya mengingat adegan saat Lord Summerisle dalam “The Wicker Man” hendak membakar boneka persembahan pada Tuhan pagan yang memberi tanah mereka kesuburan. Cobalah simak “Prayer of Tempest”, “Inner Sanctum”, dan “Aerial Chetau” bersanding dengan setakaran zat yang mampu membuat mata merah, maka mereka akan mampu menghadirkan realm yang dinubuatkan pada Matthew Hopkins untuk menjadi pemburu manusia dalam era witch hunt seperti terangkum dalam “Witchfinder General”. “Golden Tangerine”? Ah, rasanya andai Kenneth Anger membuat legenda itu, “Lucifer Rising”, masa-masa belakangan ini, sudah barang pasti nomor ini bakal dipilihnya untuk mengiringi 30 menit absurditas mengenai usaha-usaha pembangkitan Lucifer.

Penutup album ini, Ozymandias memiliki tempat yang lebih spesial bagi saya dibanding mosaik-mosaik horror yang terangkai dari awal “Crimson Eyes”. Bukan karena nomor ini menjadi single pertama yang dilepas guna menginisiasi “Crimson Eyes”, bukan pula karena nama Ozymandias mengingatkan saya pada karakter jenius dalam DC Comics Watchmen. Melainkan karena Ozymandias milik Sigmun adalah karkater yang sama yang diceritakan Percy Bysshe Shelley dalam puisinya yang berjudul “Ozymandias”.

Baik Percy maupun Sigmun meletakan Ozymandias sebagai visioner sekaligus kuil di langit yang menganggap dirinya dan hasil karyanya adalah sesuatu yang tidak akan tepapar oleh radiasi waktu. Dalam puisi Percy, Ozymandias adalah seorang penakluk yang seumur hidupnya berusaha mengawetkan kejayaannya hanya untuk berakhir pada empat baris sonet berbunyi “My name is Ozymandias, king of kings: Look on my works, ye Mighty, and despair!”Nothing beside remains: round the decay. Of that colossal wreck, boundless and bare, The lone and level sands stretch far away”. 

Ketidak kekalan, ketidak mampuan melawan waktu, dan kekeras kepalaan pada sesuatu yang pasti adalah sesuatu yang sangat menakutkan. Bahkan lebih menakutkan dari arti harfiah horror itu sendiri. Maka, rasanya tepat ketika Sigmun menempatkan”Ozymandias” sebagai punchline dari mosaik-mosaik horror yang terangkum dalam “Crimson Eyes”

II

Oh, rasanya saya terlalu banyak melantur sampai alpha membahas musikalitas Sigmun dalam “Crimson Eyes”. Tak perlu banyak premis untuk menjelaskan musikalitas Sigmun. Saya hanya akan meminjam selarik line milik Josh Rowland dari Pallbearer ketika dia menulis di portal Noisey -ini portal yang berbicara tentang keterkaitan kultur popular dan musik, bukan portal produk pembersih lantai cum shampo motor, perlu diingat- yang berjudul “Interstellar Overdirve: A Heavy Metal Fan’s Guide To Forgotten Synth”. Sekaligus menegaskan pelurusan keseragaman opini yang banyak saya dapati dalam review-review mengenai “Crimson Eyes”.

Dalam tulisan tersebut, Josh menegaskan sebuah line yang saya kira sangat tepat untuk menilai musikalitas Sigmun. Begini bunyinya: “It’s like comparing every rock band to Led Zeppelin. Yeah, we know, they’re awesome, but that doesn’t mean that everyone out there sounds like—or is even directly influenced by—them“.¹ Nah, tidak semua yang berbunyi seperti Zep kemudian harus dibandingkan dengan mereka, bukan? Bahkan untuk Sigmun dalam “Crimson Eyes”. Sepertinya, dalam pandangan pribadi saya, bakal lebih menarik membandingkan “Crimson Eyes” dengan “Clearing The Path to Ascend”nya YOB. Bagaimana kedua album ini nampak mirip dalam penaikturunan tensi nomor per nomornya plus keduanya sama-sama ditutup dengan elegi, yang walaupun berbeda nuansanya, berjudul “Ozymandias” dan “Marrow”. Bukankah itu akan lebih menarik? (WR)

[1] http://noisey.vice.com/blog/synth-music-guide