Artist : PROVOKATA | Album : Catatan dari Sudut Kota | Genre : Grindrock/Post-Grind  | Label : Provokata/MMXIV | Tahun : 2014
 

Purwokerto merupakan kota yang bersejarah untuk Riyan Renjana Sakti (Vokal), Gagas Agung Sedayu (Gitar), Vivid Wicaksono (Bass), dan Rudy Kusdiyanto (Drum). Untuk pertama kalinya mereka sepakat untuk membuat sebuah band bernama PROVOKATA, dan untuk pertama kali aksi mereka justru berada di Purwokerto pada tahun 2012, bukan Semarang. Saya masih ingat ketika itu mereka berada di sebuah gig di Kongkow Café (Sekarang udah R.I.P), mereka membawakan musik yang memang cukup tak lazim, mereka mencampur musik Grindcore dengan bumbu pattern-pattern Rock yang akhirnya mereka sebut GRINDROCK!!!

Di tahun 2014 mereka merilis debut full album mereka berjudul “CATATAN DARI SUDUT KOTA”. Secara keseluruhan album ini lebih menceritakan tentang hiruk pikuk kehidupan kota Semarang, yang notabenya adalah kota domisili mereka. Album ini berisi 10 track yang lirik-liriknya cukup cerdas dan cadas membuat kita menjadi penasaran untuk memutarnya berulang kali. Untuk artwork sendiri dikerjakan oleh Bayu Tambeng, menurut Vivid artwork bergambar perkelahian dua anjing liar ini menggambarkan lagu-lagu PROVOKATA yang beringas dan cukup melukai.

Lagu pembuka berjudul “Catatan Dari Sudut Kota”, lagu yang banyak menceritakan tentang keadaan kota Semarang dari sudut pandang mereka, “Tanah merah telah menyerah, tanah merah ditelan usia” bisa diartikan sebagai gambaran kota Semarang sekarang semakin tua dan semakin tidak bisa menahan kepadatan penduduk yang semakin tak beraturan dan jauh dari kesan “berbudaya” yang merupakan simbol dari kota Semarang sendiri. Di susul dengan lagu “Kopi Hitam untuk dunia yang Pahit”, “Ode Untuk Pemuda”, lagu ini lebih menceritakan bagaimana keadaan pemuda sekarang kebanyakan ketika di jalan, mereka seolah-olah menantang maut dengan melaju kendaraannya di atas 100km/jam tanpa memikirkan keselamatan mereka.

“Tragedi”, sebuah lagu yang menceritakan tentang banyaknya tragedy yang semakin banyak bermunculan di Negara ini, seolah-olah sudah menjadi sebuah tontonan di sebuah panggung. menyusul track berjudul “Sebilah Pedang Bermata Dua”, “Gitar ini Membunuh Fasis”. Berikutnya “lagu Buat Nona”. diawali dengan sebuah orasi penuh kritik dan ciamik, lagu ini menceritakan tentang fenomena banyaknya sajian musik yang lebih mengutamakan tontonan fisik, berupa goyangan “hot” dan lekuk tubuh penyanyi yang dijual secara bebas di atas panggung tanpa melihat sisi edukatif dari lagu-lagunya.

“Weekend For The Weak Ant” merupakan track andalan saya di album ini, lagu yang bercerita tentang kehidupan para pekerja yang selalu disibukan dengan pekerjaan yang monoton, dan mereka hanya mempunyai waktu luang diakhir pekan, sebelum kembali disibukan pekerjaan diawal pekan.  Next, lagu berjudul “Sepetak TamanKu Di Antara Tirani Norma” menceritakan tentang hilangnya ruang public belakangan ini (pernah disinggung juga di editorial board dalam laman ini tentang ruang publik).

Dan akhirnya “Untuk Mereka Yang Bakar Buku” menjadi penutup dari album “Catatan dari Sudut Kota”. Lagu paling cerdas dalam penggarapan musiknya. Lagu yang bercerita tentang banyaknya pembakaran buku bersifat Radikal/kiri yang tidak sepaham dengan keyakinan, ide-ide serta sejarah yang kita dapatkan di sekolah formal.  Mereka yang mempelajari buku-buku tersebut dianggap pemberontak, padahal belum tentu isi dari buku tersebut buruk.

Secara keseluruhan album ini cukup berbahaya, dan sebuah penyegaran untuk scene musik keras, sebuah kemasan musik dan lirik yang cerdas dan penuh provokasi. Demikianlah review dari album “Catatan dari Sudut kota” semoga bisa menjadi pedoman pembaca untuk berniat membeli rilisan fisiknya (AFA).