Pembaca, apakabar? Sebelum pembaca agak tercengang dengan judul diatas, saya (pribadi, tanpa mewakili haertcorner.net) sebagai penulis Editorial Board ini dengan segala kerendahan hati memohon maaf apabila judul tersebut membuat pembaca agak bertanya-tanya dan mengernyitkan dahi mengenai kemungkinan laman ini untuk menjadi media yang disusupi kepentingan politik praktis yang sedang bergejolak di negara tempat kita tinggal sekarang, Indonesia. Segala persepsi yang mungkin timbul dari judul tersebut akan saya jelaskan secara runut dalam editorial board kali ini, sehingga pembaca dapat memahami korelasi variabel per variabel yang terdapat dalam judul diatas dan mengamini sebuah ketakutan yang bukan berdasarkan pemikiran delusif semata, melainkan berdasarkan sebuah kenyataan.

Baiklah, Pembaca, tanpa perlu membuka tulisan ini lebih jauh, izinkan saya untuk memulai menerangkan variabel demi variabel dalam judul Editorial Board kali ini mulai dari “If You Tolerate This, Then Your Children Will Be Next”. Kalimat berbahasa asing tersebut adalah judul lagu milik Manic Street Preachers yang muncul dalam album “This Is My Truth, Tell Me Yours”. Dalam pengalaman saya mendengarkan lagu tersebut sekaligus mencoba memahami makna liriknya, saya mendapatkan pemahaman mengenai dua hal, yang pertama adalah ketakutan terhadap sikap skeptis kita yang berujung pada toleransi terhadap tipikal kepemimpinan fasistik[1] dan yang kedua adalah mengenai keinginan kita untuk mendapatkan kesetaraan logika berpikir terhadap lisensi membunuh yang dimiliki para fasis[2].

Pembaca, menghadang fasis yang mencoba mengangkang kembali dijalanan terkadang membutuhkan pemikiran yang jernih sejernih-jernihnya, kadang pula sampai-sampai harus mengingkari janji hakiki kita untuk tidak terlibat dalam aktivitas politik[3]. “Kita anak indie[4], bro, ngapain ngurusin politik, kita bebas dari pengaruh politis siapapun”. Kalimat tersebut jamak saya temui dalam percakapan sehari-hari, secara makna bahasa, kembali saya meminta, maka izinkanlah saya untuk mempengaruhi pemikiran pembaca mengenai makna kata dari “politik” sendiri itu sebenarnya apa? Untuk keterkaitan sikap apolitis dan makna kata politik, saya lebih suka menggunakan salah satu pengertian politik paling tua yang dikemukakan Aristotle yaitu tindakan untuk menekankan kuasa kita dalam sebuah interaksi yang menghasilkan orang yang menjadi lawan kita berinteraksi menjadi terpersuasi atau menjadi percaya dengan apa yang kita kemukakan. Dengan memberikan pemahaman makna kata politik melalui pengertian tersebut, saya berharap pembaca jadi dapat memberikan dikotomi yang tegas mengenai makna kata politik dalam sikap apolitis dengan politik praktis yang menghasilkan sebuah pemahaman baru mengenai betapa tidak bertanggungjawabnya sebuah sikap apolitis yang katanya menjadi tujuan hakiki dari sebuah seni.

Berlanjut pada pembahasan variabel yang kedua, Apolitisme, tidaklah afdal kiranya tidak mengaitkan pembahasan ini dengan metode dialektika historis milik filsuf kenamaan Friederich Hegel. Hegel pernah berkata sejarah adalah hal yang berulang dan memberikan kemungkinan pada partikel-partikelnya untuk berulang dan mempengaruhi masa depan. Dalam kaitannya dengan sikap apolitis seni yang merebak belakangan ini, kita harus secara tegas dan mantap menyalahkan kesuksesan rezim Orde Baru yang secara sistematis memisahkan seni dengan suara rakyat melalui kanonisasi seni lewat Balai Pustaka[5]. Di masa berkuasanya rezim tersebut kita dipaksa untuk menyasar hal-hal absurd dalam kehidupan tanpa boleh lagi menyuarakan kritik bernada politis[6] pada pelaksana kekuasaan negara. Kita sudah kadung terlalu lama mengalami “peninabooan” ini, sehingga kritik kita melalui seni menjadi tumpul dan kita memilih untuk tidak lagi menggunakan seni sebagai media guna mengkritisi penguasa. Lalu apa yang kita budayakan dalam seni kita selain sikap skeptis akibat mengakarnya keadaan apolitis dari seni? Ya tidak ada, kita sudah jadi skeptis, kalau boleh lebih kasar saya menyebutnya kita sudah dibudayakan buat mengenal seni yang skeptis, tidak menyentuh keadaan konkret dalam kehidupan, kita terlalu lama dibuai dengan pilihan-pilihan kata dalam seni yang terlalu indah, kita tidak lagi mengenal sikap seni yang tegas menantang dan mewakili keadaan sekitar kita.

Sebagai penutup dan kesimpulan, saya sebagai penulis mengkorelasikan ketiga variabel dalam judul Editorial Board ini menjadi sebuah pilihan seperti ini: “Kalau bapak-bapak nanti berkuasa dan masih menggunakan logika berpikir fasis seperti dalan lirik lagu “If You Tolerate This, Then Your Children Will Be Next” melalui peluru, melalui peraturan perundangan karet yang selalu menekan kami, melalui kebijakan yang menguntungkan bapak-bapak dan segelintir orang sementara kami terus berteriak tidak setuju maka kami minta kesetaraan dimana kami masih boleh mengkritik bapak melalui lagu, melalui puisi, melalui komunal-komunal yang kami anggap mampu menyampaikan pesan maupun keresahan kami atas logika berpikir fasis bapak ketika berkuasa nanti”. Oh, atau karena mumpung bapak belum berkuasa, kenapa kami tidak berusaha sekuat tenaga untuk mengalihkan dukungan dari bapak menuju bapak yang satunya yang sepertinya masih memperbolehkan kami melakukan kritik emansipatoris ketika nanti dia berkuasa dan tidak mungkin membalas lagu atau puisi sumbang kami dengan peluru. Masalah ini menjadi mengemuka karena jalan buat bapak sudah terlalu lengang, sudah saatnya kita menentukan pilihan sekarang, sudah saatnya kita membuktikan bahwa seni tidak pernah bersifat apolitis, bahwa seni selalu mengandung muatan, bahwa seni selalu merupakan media terbaik dalam menantang fasis yang hendak mengangkan lagi di jalanan. Karena “mereka” berdua bilang “mereka” adalah kita, kenapa “mereka” tidak kemudian menjadi pilihan yang paling masuk akal bagi kita. Selamat membaca, dalam hidup kita harus memilih. Salam!


  1.  “If You Tolerate This, Then Your Children Will Be Next” adalah judul single dari band rebel kenamaan asal Wales, Manic Street Preachers, yang dipopulerkan pada album “This Is My Truth, Tell Me Yours”. 
  2.  Silakan simak potongan lirik lagu “If You Tolerate This yang berbunyi: “Monuments put from pen to paper, Turns me into a gutless wonder. And if you tolerate this then your children will be next”. 
  3. Silakan simak potongan lirik lagu “If You Tolerate This yang berbunyi: “So if i can shoot rabbits, i can shoot fascists. 
  4. Pembaca, hendaknya mulai sekarang pembaca mulai membedakan pengertian politik sebagai makna kata yang berdiri sendiri dengan politik sebagai tindakan praktis. Aktivitas adalah sebuah tindakan yang pasti berujung pada tindakan yang bersifat praktik. 
  5. Saya pribadi sebagai penulis entah mengapa agak geli ketika menggunakan kosakata indie yang pada masa belakangan ini sudah agak jarang digunakan. Kosakata indie mulai kehilangan makna semenjak para musisi swadaya melabeli diri mereka sebagai indie tanpa mengakar dalam pada akronim legendaris milik pergerakan indie, yaitu RCA (root, character, attitude). Para puritan indie pada masa sekarang lebih gemar menggunakan kosakata cutting-edge. Dengan sangar dan mendalamnya kosakata pengganti indie tersebut, penulis berharap kosakata ini tidak lagi disamarkan oleh perebut-perebut pasar bawah tanah yang sekarang sedang marak-maraknya dalam bergerak dan menjual diri. Penulis berharap pembaca selalu waspada terhadap penyamaran ini, untuk memupuk dan memelihara kewaspaan tersebut penulis meminjam kuotasi band sludge metal paling ganas di peta permusikan sludge kontemporer, Thou, “Remember today’s underground scene is tomorrow’s shoping mall”. Penulis tidak menginginkan peringatan tersebut menjadi kenyataan, semoga pembaca pun demikian. 
  6. Guna memberikan pembacaan yang lebih komprehensif dan relevan mengenai masalah kanonisasi sastra (kanonisasi artinya adalah pengkitaban), pembaca dapat membaca surat terbuka Master Martin Suryajaya kepada Goenawan Mohammad di laman indoprogress ata menamatkan buku berjudul “Kekerasan Budaya Pasca 1965” karya Wijaya Herlambang. 
  7. Untuk pengertian politik yang ini, penulis mengartikannya sebagai penyelenggaraan negara melalui lembaga-lembaga yang berwenang, untuk menapatkan pembacaan yang lebih luas mengenai pengertian politik sebagai olembaga-lembaga penyelenggara kekuasaan negara, penulis menyarankan pembaca untuk membaca “Dasar-dasar Ilmu Politik” karya Miriam Budiardjo.