Ultimatum – Inlander


Artist: Inlander  |  Album: Ultimatum  |  Genre: Crossover Thrash/ D-Beat  |  Label: Purimusik  |  Tahun: 2013

Pertama kali melihat cover album ULTIMATUM milik INLANDER dengan Logo UN (PBB) yang diganti dengan molotov langsung membuat saya mencari tahu tentang band ini, dan tidak perlu waktu lama saya langsung dapat CD Ultimatum dari Demajors selaku distributor album mereka. Benar tebakan saya ketika melihat cover album Ultimatum, yang ada dipikaran saya pengaruh band – band D-Beat seperti Discharge, Anti Cimex , Wolfbrigade masih sangat kental disetiap lagu-lagu INLANDER, lead Guitar ala Motorhead pun tidak ketinggalan. Sebelumnya saya sama sekali belum pernah mendengar musik mereka, jadi seperti tradisi membeli kaset tape di jaman SD, belum tahu lagunya asal covernya menarik saya beli, dan kali ini saya beruntung. 😀

Band asal Jakarta yang terbentuk tahun 2001 dan beranggotakan Bani (Vocal), Firman (Drum), Radhit (Gitar) dan Tomio (Bass) ini sudah mengeluarkan dua album. Yang pertama Para Bellum (2011) dan yang kedua adalah Ultimatum (2013). Pada album pertama musisi pendukung yang ikut andil cukup “berbahaya”, sebut saja Toto Tewel (Elpamas, Swami, Kantata Takwa, Sirkus Barock) dan Irfan (Gigantor). Sedangkan untuk album Ultimatum, Inlander baru saja mengadakan rilis party untuk album tersebut pada akhir bulan September lalu. Selamat !!!

Oke sekarang mari kita bicarakan konten dari album Ultimatum mulai dari segi kemasan album maupun dari lagu yang mereka rangkum dalam album ini. Kita mulai dari fisik album, Ultimatum membuat saya jatuh hati sejak pertama kali melihat covernya dan ternyata Tomio adalah orang yang bertanggung jawab dalam proses keratif penggarapan cover album tersebut. Dengan packaging Jewellcase sederhana dan insert yang sederhana pula kemasan album Ultimatum sangat mengena karena masih satu tema dengan tema besar yang mereka angkat di setiap lagu dalam album ini. Kemasan album ini berupa insert folded paper yang apabila dibuka menyerupai layout koran dengan susunan lirik lagu sesuai urutan lagu di album yang ditambah dengan quotes-quotes di setiap awal lirik lagu sebagai penjelas makna lirik yang mereka tulis dan ingin mereka sampaikan pada pendengarnya. Inlander secara cerdas memberikan visual-visual pendukung dalam album pemberontakan meraka, hal tersebut terlihat melalui pencantuman foto-foto bersejarah ketika Seokarno menerima surat-surat kepercayaan pengembalian kedaulatan sebagai bangsa yang merdeka dari Kolonial Belanda yang dirangkai dengan foto yang cukup kontras berupa foto Soeharto yang menunduk menandatangani perjanjian IMF untuk memberikan dana bailout bagi Indonesia guna menghadapi krismon di layout album mereka. Rangkaian foto-foto tersebut seolah menceritakan perbandingan jaman kejayaan Indonesia dulu yang dibandingkan dengan keterpurukan di jaman sekarang.

Lanjut ke sesi selanjutnya berupa konten lagu dalam album, Ultimatum berisi 11 nomor yang hampir seluruhnya berisi lirik – lirik nasionalisme yang menyuarakan dominasi kekuatan pihak-pihak asing yang menjajah Indonesia. Diawali dengan intro yang gagah untuk mengawali album “Protokol”, Inlander seolah sukses untuk terus menggeber emosi pendengarnya melalui nomor-nomor berikutnya di album ini. Hal tersebut dibuktikan melalui nomor dibelakang intro yaitu “Start Your Engine” yang seolah memanas-manasi kesadaran pendengar akan situasi politik yang ada. Dibelakangnya “Bangkit Melawan” melanjutkan emosi yang masih tersisa dari nomor sebelumnya, lirik persuasif dalam nomor ini jelas  mengajak kita untuk Bergerak bangkit melawan!! Kelompok pencuci otak dan pemanipulasi fakta serta informasi diceritakan dalam nomor “Ekstrimis” dengan pemilihan kata yang cerdas. Lanjut dengan “Amunisi Garis Depan” sebuah nomor yang cukup unik karena diawali dengan pidato kemerdekaan Soekarno yang membahas pembangunan bangsa sebagai intro. “Redshield” membahas Dinasti Rothschild (Yahudi) yang melegenda dan sangat berkuasa yang melahirkan program Zionisme.

“Tensi yang dibangun album inipun cukup apik mulai dari pemanasan hingga pencarian kebenaran, benar-benar album yang tertata secara rapi dalam upaya pencapaian sebuah kesimpulan melalui satu album yang memiliki tema besar yang seragam.”

Mengantri dibelakangnya, kita akan langsung disambut dengan potongan lirik tajam berupa “Ketika seseorang telah bersumpah untuk menjaga, membela bangsa dan negerinya dengan pengorbanan apapun, pada saat itulah kemanusiaan diuji.” pada nomor “Seroja” yang mewakili sasaran tembak berupa pilihan antara kemanusiaan atau chauvinisme. “Ambil AK” menggambarkan semangat perlawanan dengan penulisan lirik cerdas. “Sistemati” menceritakan kemerdekaan warga negara yang sudah direbut. Pada awal penulisan lirik lagu ini di layout album terdapat kutipan Alinea pertama pembukaan UUD Negara Republik Indonesia 1945 guna memperkuat makna kemerdekaan yang sesungguhnya. “Hologram Ultimatum” adalah klimaks dari album ini yang kemudian titelnya diambil  sebagai titel album ini. Nomor ini berisi sebuah lirik dan komposisi yang menceritakan tentang kedatangan kedua juru selamat yang justru memperdaya umat manusia. “Cahaya Semesta” yang digambarkan sebagai upaya pencarian kebenaran dari masalah yang ada pada nomor sebelumnya didapuk sebagai penutup dari album Ultimatum dan memang menurut saya nomor ini layak menjadi penutup perjalanan pemberontakan di album ini.

Sejak awal album hingga penutupnya, Ultimatum menurut saya menjadi sebuah simbol perjalanan pemberontakan terhadap kaum penindas yang coba disampaikan Inlander pada pendengarnya. Tensi yang dibangun album inipun cukup apik mulai dari pemanasan hingga pencarian kebenaran, benar-benar album yang tertata secara rapi dalam upaya pencapaian sebuah kesimpulan melalui satu album yang memiliki tema besar yang seragam. Selamat mendengarkan Ultimatum dari Inlander untuk para ekstrimis !!! (IG)

Previous Hari Ini Kita Setuju Untuk Bersepakat
Next Daur Baur - Pandai Besi