Self Titled – The Frankenstone


Artist: The Frankenstone  |  Album: The Frankenstone  |  Genre: Punk Rock  |  Label: For The Dummies / Yesnowave  |  Tahun: 2013

Awal Perkenalan saya dengan The Frankenstone terjadi sekitar tahun 2009. Saat sedang melihat laman dari net-label Yesnowave saya melihat ada The Frankenstone pada laman awal. Hal tersebut mengingatkan saya pada suatu saat sempat sekilas melihat kata “The Frankenstone” pada sebuah zine. Tanpa pikir panjang saya langsung mengunduh “Don’t be Sad, Don’t be Gloom, The Frankenstone is Ugly” yang merupakan album perdana mereka.  Dalam album ini terasa warna Punk Rock yang kental dengan semangat yang tercurah pada tiap lagunya yang juga dibumbui dengan  atmosfer yang (menurut saya) terkesan ugal-ugalan. Kemudian pada tahun 2011 mereka kembali menggebrak dengan album ganda yang bertitel “A Kids Refuge From The Adults”, yang akhirnya mempertemukan secara personal dengan trio (yang pada saat itu) terdiri atas Putro, Gisa dan Jeje. Pada tahun 2013 ini The Frankenstone kembali berada pada halaman awal Yesnowave dengan album ketiga mereka “The Frankenstone”. Album Self-Titled dengan formasi baru dimana Gisa sudah tidak lagi memperkuat The Frankenstone dan digantikan Herjun.

“Album baru ini benar-benar menyajikan raungan gitar Putro. Namun, hal tersebut membuat kurang nyaman di beberapa poin. Sound yang bersih megurangi atmosfer semangat dan ugal-ugalan yang terdapat pada dua album sebelumnya.”

Satu pertanyaan yang muncul ketika sebuah band melakukan pergantian formasi adalah kemungkinan jika hal tersebut tidak terjadi pada “sang nyawa” dari sebuah band maka pergantian personel tersebut mungkin bukan suatu hal yang fatal. Namun, chemistry yang dulu dibangun oleh Putro dan Gisa adalah salah satu hal penting dalam “membangun” The Frankenstone itu sendiri. Kesadaran akan hal tersebut membawa mereka pada ide perpaduan vokal di album kedua dengan shout vocal antara Putro dan Gisa diberikan porsi lebih daripada album pertama mereka. Sebenarnya saya sempat ragu saat mengetahui bahwa Gisa sudah tidak menjadi bagian dari The Frankenstone lagi. Namun ternyata, kekhawatiran saya sirna karena mereka tidak menghilangkan vocal Gisa pada track-track lawas yang kembali masuk pada album ini dan masih tersisa di beberapa track baru.

Pada penggarapan album ketiga ini mereka mengajak Wisnu Jahat yang biasanya menangani band metal Jogja  untuk urusan mixing dan mastering. Sungguh tidak biasa, mengingat pada album terdahulu hal ini sudah menadi urusan Putro sendiri. Perbedaan drastis dari segi sound lebih terasa, lebih bersih dan detail mengikuti arasemen yang lebih kompleks daripada album-album sebelumnya. Album baru ini benar-benar menyajikan raungan gitar Putro.  Namun, hal tersebut membuat kurang nyaman di beberapa poin. Sound yang bersih megurangi atmosfer semangat dan ugal-ugalan yang terdapat pada dua album sebelumnya. Mungkin, hanya track For The Dummies yang masih bisa saya tangkap semangatnya, sedangkan pada We’re Friends We’re Gonna Stick Together terkesan sedikit lebih garing.

Secara Keseluruhan, inti dari album ini adalah pada titel album sekaligus track pembuka dan nama band ini, “The Frankenstone” . Yang saya tangkap, inilah The Frankenstone sekarang dengan formasi baru dan  lagu lama yang direkam ulang, Album “The Frankenstone” ini lebih tampak seperti sebuah album The Best Of The Frankenstone. Album ini sangat cocok untuk sebuah perkenalan bagi pendengar baru dan cocok pula bagi pendengar lawas The Frankenstone melalui tembang-tembang anthemicnya. We’re Friends We’re Gonna Stick Together!!!!! (RW)

Previous Suar Marabahaya - ((AUMAN))
Next Hari Ini Kita Setuju Untuk Bersepakat