Self Titled – SEMAKBELUKAR


Artist: Semakbelukar  |  Album: Semakbelukar  |  Genre: Pop/Folk-Melayu  |  Label: Elevation Records  |  Tahun: 2013

Semakbelukar adalah nama sebuah band yang agak menyentil telinga dan otak saya, yang kemudian memicu keinginan saya untuk mengetahui mereka lebih dalam. Tepatnya disekitar jelang akhir 2011 lalu saya mengetahui keberadaan meraka, semangat saya untuk mengetahui band ini dikarenakan minat saya akan musik folk  yang juga diperkuat (lagi-lagi) karena keterikatan emosional dari asal akar keberadaan mereka yang berasal dari kota Palembang, Sumatera Selatan kampung halaman saya. Titik penasaran saya memuncak ketika mengetahui meraka pernah meng-cover satu lagu daerah Sumatera Selatan yang sangat tidak asing bagi saya berjudul “Sayang Selayak”. Keingintahuan saya untuk mengetahui eksistensi mereka nampaknya cukup telat sebab pada kenyatannya terhitung sejak 2009 lalu, Semakbelukar telah menelurkan 2 EP ,1 EP  ditahun 2012, dan 1 EP lagi di tahun 2013. EP terbaru mereka yang bertajuk “SEMAKBELUKAR” inilah yang akan menjadi pokok bahasan saya dalam tulisan ini.

Pertama kali saya mendengarkan karya Semakbelukar, saya sedikit menegerutkan dahi karena sedikit terkejut mereka memainkan musik yang bernada melayu, tapi tidak lama setelahnya saya bisa mulai menikmati nada-nada yang mereka mainkan. Alunan musik melayu kontemporer yang mereka mainkan dapat saya katakan dengan jujur adalah musik yang tidak asing di telinga saya karena sejak kecil saya terbiasa dengan nada-nada melayu. Hal yang semakin membuat saya semakin mengagumi mereka  adalah karena mereka dengan cermat membumbui nada-nada melayu dengan sedikit alunan nada Baltic folk tanpa mengubah cita rasa asal nada melayu yang menjadi senjata andalan mereka di EP ini. Dengan kemampuan menkombinasi dua genre musik tersebut, saya harus mengakui Semakbelukar adalah unit yang sangat unik dan sungguh cerdas. Saya mesti angkat topi. Dalam menggarap komposisi ajaibnya, Semakbelukar didukung oleh Belukaria Orkestar, sebuah  sebutan untuk para kolaborator di Semakbelukar. Belukaria Orkestar sendiri terdiri dari : David Hersya (mandolin, vocal), Ariansyah Long (gendang melayu), Ricky Zulman (akordeon), Mahesa Agung (mini gong), Angger Nugroho (jimbana). Album mereka yang dicetak dalam bentuk CD ini juga telah dirilis dalam bentuk 7” vinyl dimana proses penggarapan vinyl tersebut dikerjakan oleh Clint Holley di Cleveland, Ohio, USA.

Menurut saya ada dua pencapaian besar Semakbelukar pada album ini, yang pertama adalah mereka seperti meresureksi terminologi musik “Melayu” itu sendiri yang sudah kadung salah kaprah gara-gara band semacam Kangen atau St12.

Dalam menyimak album ini, saya menemukan sebuah kesimpulan yang unik. Album yang secara keselurahan didominasi oleh nada melayu kontemporer ternyata dapat menyatu dengan  nada khas Baltic. Kesimpulan pertemuan nada antara Melayu dan Baltic saya temukan melalui nada khas yang dikeluarkan oleh akordeon. Selain menemukan persimpangan antara nada Melayu dan Baltic,  komposisi yang dimainkan Semakbelukar sangat menarik buat telinga dan memori saya karena seluruh komposisi lagu yang mereka mainkan seakan membawa saya  pada masa kecil saya ataupun pada saat selagi saya masih berkumpul dengan keluarga saya dikampung halaman. Kekaguman saya tidak berhenti pada musikalitas Semakbelukar saja, justru kekaguman saya cenderung makin menjadi setelah saya mencoba menghayati lirik-lirik yang mereka ciptakan. Mereka sepertinya sangat paham bahwa bahasa musik melayu adalah rangkaian kata yang disusun secara estetis dan puitis, melankolis juga religius, serta memiliki makna yang sangat dalam, terbukti dari nomor-nomor karya mereka yang berisikan 8 (delapan) track dengan lirik-lirik yang menyiratkan hal spiritual, tentang kehidupan duniawi, moralitas dan banyak lagi, benar-benar pengambaran sebenar-benarnya musik melayu itu sendiri.

Menurut saya ada dua pencapaian besar Semakbelukar pada album ini, yang pertama adalah mereka seperti meresureksi terminologi musik “Melayu” itu sendiri yang sudah kadung salah kaprah gara-gara band semacam Kangen atau St12. Mereka seolah mematahkan stigma bahwa music melayu “hanya” sekadar mendayu-dayu dan terkesan cengeng serta kampungan tapi nyatanya ditangan mereka musik melayu tersaji dalam tataran yang hakiki dengan kualitas nada serta lirik yang istimewa. Pencapaian mereka yang kedua adalah dimana Semakbelukar dengan berani dan jujur menunjukan akar asal keberadaan mereka.  Hal tersebut ditunjukan dengan keberanian mereka untuk memaikan musik folk yang diapdu dengan nuansa melayu. Keberanian mereka ini jelas sebuah bentuk perlawanan trend kekinian dimana banyak band-band folk muncul dengan memainkan music folk bernada khas barat, tapi sayangnya trend tersebut cenderung membawa kita lupa bahwa ditempat kita hidup kita memilik musik folklore berupa musik melayu yang sudah ada sejak dahulu. Untuk kedua pencapaian besar tersebut saya mengucapkan salute pada mereka. Akhir kata, saya berkesimpulan album ini cukup memberikan cermin akan kesadaran untuk jujur pada musik yang masing-masing kita suka dan hidup disekitar kita, semakin kita jujur dan suka niscaya akan mucul suatu bentuk kepuasan di telinga, otak dan hati. Album Semakbelukar sangat layak digunakan untuk memahami satu bentuk kejujuran bermusik dan lebih jauh mereka pantas mendapatkan puja-puji karena keberanian mereka untuk memelihara musik yang hidup disekitar mereka yang lantas dapat mereka sampaikan pada khalayak ramai sebagai ciri khas yang membuat Semakbelukar berbeda. Selamat menikmati sajian khas milik Semakbelukar, wassalam. (GM)

Previous Part II - OCTOPUZ
Next SUSUULTRAROCK RECORD