“Menggugat” – Cupumanik


Artist: Cupumanik | Album: Menggugat | Genre: Grunge   | Label: Demajors | Tahun: 2014
 

Setelah sekian lama seakan menghilang dari peredaran, tidak lantas membuat Cupumanik kehilangan nyali untuk kembali berkarya. Sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari sebuah era yang telah berlalu, sejarah membuktikan kecenderungan pola pikir dan perilaku manusia secara umum yang bersifat dinamis akan selalu mendorong ke arah perubahan. Bukan hal mengherankan jika suatu zaman akan berubah kelak dan tidak menutup kemungkinan akan berbalik kembali nantinya seperti sebuah siklus, apalagi jika yang sedang kita bahas kali ini adalah grunge dengan segala kompleksitasnya di masa lalu. Genre tersebut sempat mencapai era keemasan pada medio 90an, bahkan menjadi scene yang cukup esensial secara global. Fenomena tersebut juga merambah histeria di tanah air. Grunge mulai mewabah sekitar tahun 1994 bersamaan dengan obituari dari Kurt Cobain yang membuatnya banyak dianggap sebagai pahlawan baru dalam kehidupan para teenage saat itu. Sekarang kita harus mengakui bahwa histeria Grunge telah lama meredup kalau tidak bisa dibilang lebih menjurus mati. Namun keadaan tersebut bukan berarti menunjukan bahwa Grunge sudah terlupakan begitu saja, masih ada beberapa band Grunge yang tetap berkarya bahkan di tengah kondisi scene yang sepi dan buktinya mereka masih mampu berprestasi. Dalam menjelaskan contoh band Grunge yang demikian, saya akan menggunakan Cupumanik sebagai contoh band Grunge yang tetap ngeyel untuk tidak patuh pada tren, maka dalam sisa tulisan ini, ijinkan saya menceritakan “Menggugat” milik Cupumanik melalui pandangan saya.

Dilihat dari judulnya, album ini memiliki daya tarik tersendiri bagaikan sebuah pertunjukan yang memiliki konsep tertentu yang berisikan protes, tuntutan, kemarahan, kekecewaan, kesedihan dan hal-hal negatif lainnya. Hal yang pertama yang terlintas dalam benak saya mengenai album ini adalah bagaimana seandainya jika Iwan Fals hidup di Seattle dan memainkan genre yang sering disebut dengan Seattle sound ini sambil memakai jersey Supersonics atau Seahawks. Mengenai konten “Menggugat” sendiri dalam sebuah susunan lagu yang terangkai dalam sebuah album sepertinya sudah lazim di negeri ini biasanya kebanyakan berisi kritik sosial-politik, mengingat sejarah panjang sebuah rezim otoritarian berkuasa dan kebobrokan yang menahun membuat sebuah album yang berisi kritik masa lalu sudah bukan lagi menjadi barang langka. Namun sayangnya, sepemahaman saya, lagu-lagu bertema kritis semacam itu sering terjebak hanya menjadi sebatas reportase belaka tentang kondisi memperihatinkan tanpa ada konklusi yang menawarkan ide ataupun ajakan menuju perubahan ke kondisi yang lebih baik.

Cupumanik sendiri dalam “Menggugat” menyasar berbagai objek kritik yang beragam, seperti menggugat negara pada track “Garuda Berdarah” dengan aroma politis begitu kentara serta cenderung dikaitkan dengan salah satu tokoh besar di negeri ini yang nyaris saja berkuasa. Track selanjutnya “PBB (Perserikatan Bangsat-Bangsat)” menggugat keras para mafia kemanusiaan yang sudah terlalu lama dibiarkan menikmati impunitas sehingga dengan leluasanya menebar terror di negri ini. “Luka Bernegara” menggugat para pemimpin negara yang tidak becus akhirnya telah menjadikan banyak orang bersikap apolitis, sebenarnya tema lagu ini bakal lebih menjadi tesis ketika mungkin Cupumanik menyasar sifat apolitis yang kemudian berujung pada anarkisme, sebuah pilihan sikap yang lebih bertanggung jawab dibandingkan berhenti pada sifat apolitis saja.

Ketiga track awal dikemas secara liar dan meledak-ledak dengan distorsi kasar dan tebal tipikal Seattle Sound dengan vokal serak meneriakan kegeraman. Hal tersebut sangat kontras bila dibandingkan dengan “Broken Home”, track selanjutnya yang mengalun lembut melagukan kepedihan. Che, sang vokalis, dalam hal ini bernyanyi begitu dalam seakan menunjukan bahwa ketakutan terbesar bagi seorang anak bukanlah pada sosok menyeramkan ataupun mitos mencekam, melainkan pada keretakan terhadap keutuhan cinta kasih orang tua mereka seperti yang digambarkan begitu memilukan dilagu ini. Masih dengan format yang tidak jauh berbeda dengan  “Broken Home”, “Syair Manunggal” mengalun sendu dan bagi saya track ini mengingatkan pada “Black Hole Sun” milik Soundgarden.  “Syair Manunggal” terdengar bijak dalam menuntut kehadiran Tuhan melalui relung hati terdalam. Tuntutan tersebut semakin terasa spiritual melalui sentuhan shoegaze/post-rock.Cupumanik kembali menggunakan porsi delay-effect yang cukup besar pada track selanjutnya yang berjudul “Aksara Alam” sebagai sikap responsif atas reaksi menyikapi berbagai hal tentang kehidupan yang erat kaitanya dengan alam semesta.

Meninggalkan tema lembut, Cupumanik kembali menggunakan formulasi distorsi pada 3 track awal melalui “Omong Kosong Darah Biru” yang menggugat feodalisme atau lebih tepatnya peninggalan zaman feodalisme, yaitu ketika stratifikasi sosial ala Pitirim A. Sorokin masih dijadikan bahan acuan serta tolak ukur dalam membentuk persepsi masyarakat. Terakhir yang masih tersisa sebuah track penutup berjudul “Grunge Harga Mati”. Merupakan track paling menarik dengan nuansa anthemic dan sound yang terdengar gagah sekaligus megah dengan hook gitar catchy. Track penutup ini menyuarakan kegelisahan yang bermula dari arogansi para penganut Grunge yang justru membuat eksistensi dan jati diri Grunge yang kian memudar. Disini saya mereka-reka adanya kemungkinan sebuah otokritik dalam scene Grunge dimana mereka terjebak dalam sebuah eksklusivitas. Hal tersebut, eksklusivitas, merupakan anti tesis dari sikap-sikap komunal yang terbudaya dalam scene Metal, Punk, maupun Hardcore. Hal tersebut akhirnya menciptakan sebuah stigma berupa kesulitan ketika mengajak para penggiat Grunge untuk berjuang bersama demi eksistensi dan jatidirinya, sedangkan selama ini apa yang mereka dapatkan dari musik grunge itu sendiri mungkin lebih banyak berupa semangat anti kemapanan, menyuarakan keresahan yang bersifat personal, meneriakan kemarahan pada diri sendiri, pengucilan diri dan alinenasi, bersikap pasif, selfish but not individualist, atau apapun itu istilahnya. Saya pikir, dengan kapasitas Che sebagai seorang yang sekarang cukup dikenal dalam kalangan luas, inilah saatnya meresureksi kembali khittah Grunge yang haqiqi. Saya selalu berkeyakinan bahwa kapasitas seseorang yang dikenal luas adalah tonggak dari sebuah tatanan baru, kalau hal tersebut bukan sesuatu yang ampuh, bagaimana bisa sekarang orang-orang mengenal istilah NOLA bila dulu Phil Anselmo tidak membentuk Down? Kami, oh atau minimal saya, berkeyakinan pada kemampuanmu untuk menggugat kembali eksistensi Grunge yang ngeyel, Che!

Previous "Manaqib Di Balik Seorang Wajah" EP - Mix Max Rap Feat Pandu
Next Hip Hop Colony Purwokerto Districtside: “5th Anniversary : Hip Hop Mendoan #2” 28 Maret 2015 Fisip Unsoed