Daur Baur – Pandai Besi


Artist: Pandai Besi  |  Album: Daur Baur  |  Genre: Pop  |  Label: Demajors  |  Tahun: 2013

Banyak hal menarik ketika membahas rilisan perdana dari kolektif musik Pandai Besi. Mulai dari pelaku, proses kreatif, pemilihan studio rekaman, hingga metode pembuatan album yang diberi nama Daur Baur ini, Pandai Besi selalu menjadi topik hangat perbincangan bagi para pemerhati musik kreatif di tanah air. Hal tersebut tak mengherankan, karena bila dirunut kebelakang terbentuknya kolektif musik Pandai Besi adalah jawaban atas kejenuhan dari Cholil Mahmud dan Akbar Bagus Sudibyo yang merupakan personil dari Efek Rumah Kaca (ERK), salah satu band non mainstream yang banyak menuai respon positif atas karya-karyanya. Sebenarnya Pandai besi sendiri meskipun berdiri sebagai sebuah unit yang berbeda dari ERK pada kenyataannya tidak dapat dipisahkan dari ERK itu sendiri. Selain karena dua personil ERK yang tergabung didalamnya, Daur Baur yang merupakan rekam jejak pertama Pandai Besi juga berisikan aransemen ulang lagu-lagu dari ERK. Seperti layaknya proyek “main-main” untuk lari dari stagnansi dalam bermusik, alih-alih membuat komposisi baru Cholil serta Akbar malah mengajak teman-teman dekatnya seperti Muhammad Asranur, Andi Hans Sabarudin, Agustinus Pandji Mahardika, Poppie Airil (additional bassist ERK), Nastasha Abigail, Irma Hidayana (istri Cholil) untuk membantu mengobrak-abrik komposisi-komposisi lama yang diambil dari dua album ERK. Eksperimen yang dilakukan tak hanya sebatas proses kreatif saja. Eksperimen tersebut juga menyentuh pada sebuah metode pendanaan baru yaitu metode pendanaan bersama atau dikenal dengan istilah crowdfunding, yang dipilih kolektif musik ini guna memuluskan jalan mewujudkan rilisan pertama mereka. Seakan enggan berkompromi dengan berbagai terobosan baru dalam masalah tempat rekaman, Pandai Besi  malah menjadikan Lokananta, Solo yang merupakan studio yang benar-benar masih menggunakan perkakas analog dan studio lawas yang pada masa lalu merupakan studio rekaman terpenting di tanah air (yang belakangan kembali hangat diperbincangkan setelah kondisinya terus-terusan menurun) sebagai tempat mereka merekam albumnya. Sepertinya kolektif musik yang satu ini memang sedang dalam usaha besarnya untuk mencantumkan nama mereka dalam sejarah besar permusikan Indonesia .

“Pandai Besi malah menjadikan Lokananta, Solo yang merupakan studio yang benar-benar masih menggunakan perkakas analog dan studio lawas yang pada masa lalu merupakan studio rekaman terpenting di tanah air…”

Dengan sedikit prolog diatas, ekspektasi berlabihan mengenai muatan dalam album Daur Baur menjadi hal yang sangat wajar. Namun, saya sendiri malah sempat ragu mengingat terakhir ERK mengeluarkan album yaitu tahun 2008 dan menurut saya rentang waktu 5 tahun merupakan waktu vakum yang cukup lama bagi band yang  memiliki potensi. Tetapi akhirnya semua keraguan saya pun dijawab oleh alter ego yang berwujud Pandai Besi. Lewat Daur Baur mereka tidak hanya sekedar mendaur ulang lagu lama milik ERK tapi juga menjadikan lagu tersebut seakan memiliki dimensinya sendiri. Secara keseluruhan lagu-lagu dalam Daur Baur terasa lebih santai dan menenangkan, apalagi kesan akrab ditelinga masih tersisa karena beberapa lagu memang masih samar terdengar membawa harmonisasi dan lirik yang sama dengan versi aslinya. Keraguan  saya selanjutnya berkaitan dengan keruwetan akibat banyaknya porsi instrumental serta durasi yang lebih panjang pada kebanyakan materi di album inipun terbantahkan, karena untungnya pembaruan tersebut justru membuat komposisi-komposisi gubahan milik Pandai besi tidak terasa menjemukan. Contohnya dalam lagu “Jangan Bakar Buku” yang memiliki durasi terpanjang mencapai hampir Sembilan menit, melodi yang bersautan disepanjang lagu dikemas secara apik untuk membentuk ambient yang menawan dan terasa menyegarkan serta jauh dari kebosanan. Nomor “Menjadi Indonesia” Nampaknya akan menjadi lagu yang paling singing able serta dancing able lengkap dengan irama terompet yang cukup menggemaskan. Sepanjang mendengarkan album ini saya seperti merasakan kehadiran Ray Manzarek dalam permainan Pandai Besi. Kehadiran tersebut paling terasa pada bagian awal nomor “Debu-Debu Berterbangan” yang cukup bernuansa haunting. Satu-satunya komposisi yang memiliki tempo berapi-api dengan ketukan cepat sepanjang lagu adalah “Hujan Jangan Marah” yang tampil gagah sebagai nomor pembuka, sungguh cerdas. Dua lagu yang di aransemen ulang secara habis-habisan hingga terdengar seperti lagu yang benar-benar baru adalah “Laki-Laki Pemalu” dan “Jalang”. “Laki-Laki Pemalu” terdengar lebih santai dengan melodi mengalun bebas memberikan suasana ceria, cukup mengingatkan pada Local Natives unit indie rock asal Los Angles, USA. Sedangkan pada nomor “Jalang” yang pada versi aslinya berisi lirik menggugat yang begitu pekat diaransemen ulang sehingga terasa begitu bijak untuk membangun emosi secara bertahap. Lalu pada nomor “Di Udara”, komposisi dibangun dengan uraian melodi lembut mengalun bahkan sedikit menerawang kemudian diakhiri dengan suara piano seperti yang biasa terdapat di gereja. Terasa begitu spiritual, entahlah mungkin uraian lagu “Di Udara” digunakan untuk menggambarkan jika Munir telah tenang di alam sana.

Secara keseluruhan Daur Baur memiliki kualitas yang baik dalam hal musikalitas dan sangat pintar menggunakan formula membangun serta memainkan emosi pada setiap lagunya. Hanya saja, mungkin jika mereka tidak membawakan kembali lagu-lagu milik ERK, rilisan perdana mereka dapat melebihi atau paling tidak menyamai pencapaian ERK pada awal kemunculanya yang menuai banyak respon positif. Tapi apapun itu Daur Baur sebagai album debut telah menjadikan Pandai Besi sebagai salah satu unit pop kreatif berbahaya yang patut disimak sepak terjangnya, jika benar istilah ‘sejarah  ditulis oleh mereka yang menang’ maka Pandai Besi layak menjadi pemenang. (AR)

Previous Ultimatum - Inlander
Next Space Invasion #2: A Special Night With Coma