Cloudburst/Warmouth Split


Artist : Cloudburst / Warmouth | Album : Split | Genre : Hardcore  | Label : Unleash | Tahun : 2014
 

Bagi pembaca yang mungkin tumbuh dan mengenal Hardcore sejak akhir tahun 2000an sampai sekarang, premis yang akan saya hadirkan sebagai awalan paragraf ini mungkin membuat pembaca sekadar mengernyitkan dahi, membantah dalam hati, atau mungkin bereaksi lebih jauh dengan menyatakan ketidak sepahaman. Premis yang akan saya kemukakan adalah sebuah keniscayaan dimana Nails melakukan split dengan Converge, bagaimana? Tidak mungkinkan? Saya sendiri mengamini ketidak mungkinan tersebut. Pembaca yang lebih goer masalah informasi di internet mungkin dapat lebih melengkapi ketidak mungkinan dari premis yang saya kemukakan diatas. Mulai dari record label mereka yang tidak sama, mengenai root miring hardcore mereka yang tidak sama, dan hal lain yang bisa anda kemukakan guna melengkapi penolakan terhadap premis tersebut.

Dengan mentalnya premis yang saya kemukakan mengenai split yang dilakoni oleh Nails dan Converge, saya kemudian beralih dengan memasukan keterangan tempat pada premis yang saya kemukakan. Mungkinkah Nails dan Converge, a la Yogyakarta, melakukan sebuah album split? Kalau begini premisnya, maka saya jawab mungkin. Pelakunya adalah Cloudburst dan Warmouth, sebuah band yang bisa saya bilang hanya sebuah band iseng, mengingat para personelnya sebelum membentuk band ini telah terlebih dahulu memiliki band yang serius. Hal tersebut adalah sesuatu yang lazim terjadi di kota yang sama sekali tidak pernah terlelap dalam menciptakan inovasi baru, Yogyakarta. Lazimnya, band selingan seperti ini hanyalah proyek yang tidak serius dan hanya merupakan penyegeran saja agar sirkulasi ide pada band utama mereka tidak mandeg. Namun, dalam Cloudburst dan Warmouth, saya menemukan sesuatu yang dapat saya urai dan paling tidak itu menjadi nilai yang positif lagi baik bagi mereka yang membuat saya kemudian berpikir “gak ada salahnya kok dibilang mirip Nails atau Converge”. Kurang lebih ada dua point yang ingin saya hadirkan pada pembaca guna menaikan libido pembaca untuk kemudian memburu album ini dan mengamini premis saya.

Pertama, merilis sebuah rilisan fisik. Oke, kita mungkin sekarang hidup ditengah era alternatif sebagai cara untuk melakukan counter culture yang dilembagakan oleh penguasa sebuah bidang. Dalam hal ini, saya mengerucutkan maksud saya pada: “sekarang ini adalah era dimana semua orang bisa menjadi record label dan mampu membiayai perilisan album yang mereka buat tanpa perlu embel-embel macam-macam layaknya record label besar lazimnya”. Tapi, buat sebuah band yang hanya, saya anggap, sebagai proyek iseng ketika band utama mereka vakum, merilis album jelas bukan perkara yang mudah baik secara ide maupun guna memelihara“niat buat masih band-bandan”. Merilis album bukanlah perkara gampang yang cuma sekadar terjebak pada rutinitas ke studio lalu membuat lagu atau ke studio lalu merekam lagu. Ada sesuatu yang melebihi tataran pemikiran pendek lagi sempit semacam itu. Disini, kolaborasi Unleash Record dan Split Cloudburst/Warmouth adalah bukti bahwa sebuah record label alternatif dan sebuah band yang hanya merupakan bentukan dari orang-orang yang sudah memiliki band utama dapat melahirkan counter culture terhadap pemikiran usang mengenai record label dan semangat band-bandan. Bersama, kedua entitas tersebut dapat secara meyakinkan menghasilkan karya yang digarap secara matang, baik dari sisi promosi maupun dari sisi musikalitas.

Kedua, masalah kejujuran dan keaslian sebuah karya. Dalam bahasan ini, saya ingin mengaitkan musikalitas dan penulisan lirik dari Cloudburst dan Warmouth dengan sebuah isme yang sekarang tengah merezim. Isme yang saya maksud adalah post-modernisme. Singkatnya, isme yang saya sebut tadi, menurut Baudrillard, adalah sebuah isme dimana dalam hal ranah pemikiran sudah tidak mungkin lagi ditemukan sebuah penemuan baru atau genuineness. Saya setuju dengan pendapat tersebut. Bagi saya, pemikiran di era sekarang yang menyebut, misalkan, seorang musisi atau sebuah band menemukan jenis musik baru adalah sebuah pemikiran yang sangat obsolete. Saya jauh akan lebih menghargai sebuah band yang mencantumkan tagline, semisal: “For the fans of bla, bla, bla” ketimbang mereka yang dengan sangat maksa bilang bahwa musik yang mereka bawakan adalah sebuah temuan baru. Dalam kaitannya dengan Cloudburst dan Warmouth, saya berpendapat mereka adalah Converge dan Nails yang dimainkan oleh sekelompok pemuda tanggung dari Yogyakarta. Apa yang salah? Tidak ada, mengingat mencapai level untuk bisa memainkan apa yang Converge dan Nails mainkan bukanlah perkara yang sederhana. Selain itu, saya sangat menyoroti penulisan lirik yang dilakukan oleh kedua band ini. Dalam pemahaman saya, saat ini dalam hal tulis menulis lirik di ranah musik cutting edge, lingkungan yang kita diami sekarang sedang mengalami sakit akut dimana para penulis lirik berlomba merangkai diksi menjadi kalimat dalam bahasa Indonesia yang seaneh mungkin sehingga apa yang mereka tulis terasa sangat artsy, namun jauh dari capaian pemahaman pendengarnya. Jujur saja, secara langsung, saya sebenarnya ingin bertanya: “Apa kalian pikir kalian ini Ugoran Prasad yang mampu meramu Bahasa Indonesia dalam tataran semagis itu? Atau kalian ini sekadar Vicky Prasetyo yang membawa makna Bahasa Indonesia pada tataran degradasi yang paling akut?”. Bagi saya ketika membaca apa yang Cloudburst dan Warmouth tuliskan seperti memberikan penyegaran dalam metafora-metafora yang kemudian jadi usang ketika dibawakan dalam Bahasa Indonesia. Mereka memilih untuk menyembunyikan makna metafora-metafora yang mereka sampaikan dalam dua lapisan pengaman: dalam bahasa asing dan dalam metafora unik yang benar-benar mereka sendiri yang mampu memaknakannya. Terima kasih untuk Cloudburst dan Warmouth yang tidak memperpanjang daftar band yang gagal bermetafora melalui bahasa ibu yang sehari-hari mereka gunakan dalam percakapan.

Secara keseluruhan, saya berkesimpulan bahwa mungkin Cloudburst dan Warmouth tidak membawakan seuatu yang genuine, pun mereka tidak pernah secara eksplisit menyebut diri mereka mewakili Yogyakarta, kota tempat mereka hidup, terbentuk, dan berkembang. Namun dengan suksesnya saya menjelaskan premis pada awal paragraf tulisan ini, mengenai Converge dan Nails dalam satu album, saya harus mengulangnya takut-takut pembaca tersesat dalam membaca tulisan ini, saya jadi berkhayalbisa saja dikemudian hari terbentuk album split antara, misalnya, Merzbow dan Mars Volta a la Yogyakarta, atau Melt Banana dan Deafheaven a la Yogyakarta. Apabila di kemudian hari khayalan waton  saya ini terjadi, kalian, yang membaca tulisan ini, harus mengingat siapa yang pertama kali melakukannya. Ya, Converge dan Nails dari Yogyakarta, Cloudburst dan Warmouth!

Previous Mengenai Nostalgia dan Bagaimana Kita Memperluas Pengaruhnya
Next "HITSKITSCH" - FSTVLST